Semua hal yang terjadi di alam ini memiliki skenarionya masing-masing. Tak ada skenario yang tertukar. Allah telah memastikan bahwa skenario inilah yang akan menentukan kemana tujuan kita melangkah. Syurga atau neraka. Skenario ini pula yang menjadikan kita untuk memilih jalan ceritanya. Bahagia di dunia, bahagia di akhirat, bahkan bisa jadi kita menggabungkan kebahagiaan itu semua.
Kita hanyalah seorang artis yang selalu dalam pengawasan sutradara yang maha detil. Maha teliti. Tak akan ada satupun perbuatan kita luput dari pengawasannya. Tak mengertilah kita dimana sutradara meletakkan posisi kamera. Karena sutradara ini terlalu hebat. Mengertilah ia psikologi manusia yang selalu ingin puja dan puji manusia lainnya. Maka Dia sembunyikan seluruh kamera yang digunakannya untuk merekam semua aktifitas kita. Diletakkannya di sembarang tempat. Diletakkannya di setiap sudut. Dimana setiap semua kamera mampu merek setiap detil kejadian yang kita kerjakan. Setiap lafaz yang kita keluarkan pun akan selalu terekam dengan jelas. Hingga pada saatnya tiba, kita akan terkejut dengan bakat alami yang kita kerjakan dalam setiap episode nya. Kita akan bahagia bila peran itu sesuai dengan arahan sutradara. Serasa artis ternama. Bangganya bukan main. Namun rasanya kebahagiaan itu tak akan berlangsung lama. Karena kita akan selalu menyesal dengan semua adegan yang telah diambil tanpa kita sadari tak sesuai dengan arahan sutradara itu. Setiap gerakan yang terekam tak sejalan dengan skenarionya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut kita tak sesuai dengan isi manuskrip percakap yang ditetapkan. Maka menyesal kita dengan segala sesal yang berkumpul dalam hati. Maka terdiam kita semua menyaksikan sutradara murka. Tak senang dengan semua akting kita. Tak sependapat dengan semua ucapan kita. Betapa malangnya nasib kita ketika itu.
Kebahagiaan atas suksesnya peran yang kita jalani seolah hilang berganti was-was. Kita akan sepenuhnya diliputi kekhawatiran yang mendalam akan semua kesalahan itu. Karena kita sebenarnya terikat kontrak yang kita sadari di awal perjanjian kita menjalani peran sebagai artis ini. Kita telah menyepakati aturan yang berlaku. Tapi kemudian, kontrak yang kita sepakati dengan sadar kita langgar sendiri. Kita berbelok menjauh dari aturan yang berlaku.
Merugilah kita dalam tiap episode yang ditayangkan di hadapan seluruh manusia. Malu dengan sangat. Ingin rasanya berlari menghindar sejauh-jauhnya agar kita tak dikenali. Karena setelah episode itu tayang. Disaksikan oleh semuanya. Tak akan lagi kita mampu menegakkan kepala dengan gagah. Tak akan lagi mampu kita menatap muka semua mata yang menyaksikan tayangan skenario yang kita perankan. Tak akan pernah kita berani menatap sutradara yang selalu mengawasi kita. Hinalah kita dengan skenario itu. Celakalah kita dengan peran yang kita pilih itu.
Sebelum skenario ini tertulis habis. Mari kita improvisasi peran yang kita miliki saat ini. Masih belum terlambat untuk mengubah jalur cerita. Sutradara masih menerima saran masih menerima masukkan. Permohonan maaf dan yang lainnya masih juga diperbolehkan.
Kembali lagi ke kita yang menjalani skenario ini. Masihkah kita ingat dengan kontrak kita terdahulu?
ﻭَﺇِﺫْ ﺃَﺧَﺬَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻣِﻦْ ﺑَﻨِﻲ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻇُﻬُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺫُﺭِّﻳَّﺘَﻬُﻢْ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪَﻫُﻢْ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺃَﻟَﺴْﺖُ ﺑِﺮَﺑِّﻜُﻢْ ۖ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺑَﻠَﻰٰ ۛ ﺷَﻬِﺪْﻧَﺎ ۛ ﺃَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺇِﻧَّﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻋَﻦْ ﻫَٰﺬَﺍ ﻏَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
(QS: Al-A'raf Ayat: 172)

0 komentar:
Posting Komentar