Bercerita tentang kesederhanaan hidup

Jumat, 24 Oktober 2014

Transisi itu..

10.21 Posted by hamzah ramadhan , , , No comments
           
         Sudah lewat beberapa bulan blog ini tidak memiliki postingan baru. Bukan kurang inspirasi, bukan juga kurang inovasi. Tapi karena memang belum ada waktu dan kesempatan yang mengizinkanku untuk berbagi sedikit informasi di sini. Banyak hal yang terlewatkan setelah beberapa bulan absen dari blog ini. Ada yang sebenarnya bisa berguna untuk dibagikan, tapi sayangnya kondisiku pada saat itu terlalu malas untuk menyentuh laptop dan memulai untuk mengetikkan semua kejadian yang terjadi.
            Maka postingan kali ini kita berisi seputar resume kejadian yang terjadi selama tiga bulan terakhir ini. Jawabannya banyak sekali. Dan mungkin akan kita persempit ruang lingkupnya menjadi tiga pokok bahasan.

1.    Transisi Pemerintahan
Pembahasan mengenai pemerintahan Indonesia memang akan selalu menjadi topik seru yang tidak pernah bosan ditayangkan di media televisi kita. Semua berita mengenai perpindahan kekuasaan dan lain-lain diselesaikan dalam tempo yang panjang dan bertele-tele. Beda seperti isi proklamasi kita yang ditulis oleh Bung Karno dulu. Semua menjadi terasa rumit dan menjadikan kepala pusing tidak karuan. Cukuplah beban penderitaan hidup yang kita alami menjadi penyebab pusingnya pikiran kita. Jangan ditambah dengan kontaminasi berita hangat soal perselisihan perebutan kursi ketua, keributan tentang rapat anggota dewan yang tidak berkesudahan, sampai kehilangan palu pada saat sidang paripurna menjadi topik yang seru dibahas di media sosial. Tidakkah mereka bisa merasakan bahwa kami ini lelah. Lelah dapat informasi keributan, lelah dapat informasi ejekan, dan lelah karena mengejar harga barang yang selalu naik dan tak sesuai dengan pendapatan.
Belum lagi berita hangat yang ditambah dengan komentar para pengamat yang merasa paling hebat. Mereka berkomentar seolah para elit politik selalu salah, mereka berkomentar seolah cara yang mereka tempuh oleh para wakil rakyat kurang bijaksana. Dan apapun itu yang mereka sampaikan, rasanya hanya menyisakan sedikit nilai kebaikan bahkan cenderung terkesan menjatuhkan. Dan hebatnya lagi, anda bebas mau mendengar siapa yang jadi sasaran kritik dan ejekan. Ada saluran televisi pro pemerintah atau oposisi, bisa kita pilih sendiri. Untung saja para elit politik yang dikritik tidak sampai menyanyikan lagu Seventeen yang judulnya Selalu mengalah. Pasti akan tambah seru kejadiannya.
Presiden kita baru pula berganti rupa. Dari tentara menjadi seorang pengusaha. Dari seorang yang penuh perhitungan menjadi seorang yang cekatan. Dari seorang yang hobi menyanyi menjadi seorang yang hobi diwawancarai. Perbedaan nakhoda bahtera negara ini belum terasa sekarang. Karena negara kita belum dibawa berlayar kemana-mana. Masih kurang menteri dan segala pejabat pilihan pak presiden yang katanya masih belum lolos tes segala macam. Semoga saja pak presiden tidak lupa menetapkan komposisi kabinetnya sebelum agenda roadshow blusukan nasional dimulai.
Pastinya kita hanya bisa berdoa semoga transisi pemerintahan ini bisa menjadikan negara kita lebih baik lagi. Kondisi keuangan negara yang lebih stabil, harga barang yang tidak semakin mencekik. Dan juga semoga media kita tidak hanya disibukkan dengan perselisihan antara Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat. Karena bukan mereka yang kena imbas perselisihan itu, tercemarnya informasi dari berbagai media dengan segala judul berita bisa menyebabkan banyak obrolan di warung kopi menjadi arena debat panas seperti di ruang paripurna. Mereka memiliki pendapat yang berbeda, akibat menonton saluran televisi yang berbeda pula. Belum lagi status para warga sosmed yang jadi pengamat politik dadakan dengan modal informasi baca berita satu dua artikel saja, kemudian mencela kejelekan para wakil rakyat seolah mereka adalah para penjahat setingkat mafia yang hanya pantas masuk neraka.

2. Transisi Iklim
Indonesia kini tak lagi seindah lagu Koes Plus. Tak bisa lagi kita menanam tongkat, kayu, dan batu. Mungkin kita masih bisa menemukan kolam susu. Tapi susu coklat, karena susu putih sekarang sudah mahal di pasaran. Itu juga terjadi saat banjir besar di tiap daerah masing-masing. Karena sudah bukan rahasia umum lagi kalau iklim di Indonesia ini selalu menyusahkan rakyatnya. Bayangkan saja, ketika kemarau datang, seperti saat ini. Tanah kering kerontang, tanaman kering menguning, bukan hanya kuning, bahkan terkadang kita menemukannya sampai kecoklatan. Belum lagi kalau ada oknum yang sepertinya merasa iba melihat tanaman kecoklatan tadi, kemudian membakarnya hidup-hidup. Menyebarlah api, menimbulkan asap. Mungkin bisa jadi oknum yang membakar lahan-lahan itu hanya ingin mencoba kebenaran sebuah peribahasa yang isinya “Tidak ada asap tanpa adanya api”. Dan kemudian karena api menyebar pada musim kemarau, maka hanya sedikit air yang bisa dipakai untuk memadamkannya. Seiring berjalannya waktu api yang besar dan menjalar, menyebar membakar lahan bisa padam, tapi asapnya tetap tertinggal. Menyebar ke udara, bergabung menuju perkotaan. Karena mungkin asap juga butuh hiburan. Mereka bosan hanya berdiam diri di ladang dan hutan. Maka  berpencarlah mereka menuju kota, reuni akbar. Menyebar ke tempat pariwisata, ke bangunan sekolah, mall dan pasar. Asap yang menyebar seolah menceritakan keluhannya bahwa di daerah tempatnya berasal tidak seindah di kota. Belum berhenti sampai di situ, asap yang berkumpul tadi pun masuk ke paru-paru warga agar mereka merasakan bagaimana rasanya tinggal di dalam paru-paru warga kota yang setiap hari minum susu dan tinggal dalam ruangan ber-AC.
            Itulah yang hampir sebulan terakhir dialami kota Palembang. Tempat tinggalku saat ini. Padahal aku bukan termasuk salah satu orang kota yang rajin minum susu dan tidak juga tinggal di dalam ruangan ber-AC, tapi asap itu sepertinya kehabisan paru-paru bersih untuk mereka masuki. Mereka masih harus bersaing ketat dengan asap rokok dan asap knalpot kendaraan yang sudah lama menjadi langganan orang-orang kota.
            Dan musim sepertinya sudah mulai mengalami pergantian. Penjual masker sudah mulai mengalami penurunan pemasukkan. Hujan sudah mulai sering mampir ke Palembang. Semoga hujan bisa betah dan singgah cukup lama. Lumayan bisa menambah debit air Sungai Musi. Tapi jangan juga hujan itu terlalu betah singgah di sini hingga lupa singgah ke kota lain. Bogor bisa emosi karena gelar kota hujan pindah ke Palembang. Palembang juga belum punya tetangga seperti Jakarta yang selalu siap menampung curahan hujan setiap saat. Biarlah hujan singgah sebentar, biar perahu kertas nya Dewi Lestari bisa singgah di Sungai Musi dan menjadi novel Perahu Kertas chapter Palembang

3. Transisi Tahun
            Revolusi bulan mengelilingi bumi adalah patokan waktu yang dipakai oleh umat Islam sampai dengan saat ini. Revolusi bulan mengalami waktu lebih cepat sekitar 11 hari dibandingkan dengan waktu revolusi bumi terhadap matahari. Dan inilah yang menyebabkan para pemimpin kita di kementrian agama memiliki agenda rutin tahunan dalam membahas waktu yang tepat untuk melaksanakan dua hari raya Islam. Idul Fitri dan Idul Adha. Kalau di kalender kita, besok sudah masuk tahun baru hijriyah 1436 H. Andai bisa seragam, sama di awal puasa, sama juga di waktu hari raya, maka kita tak perlu mengalami perdebatan yang sama di setiap tahunnya. Semoga ke depannya kita bisa saling toleransi dalam menghadapi perbedaan posisi bulan dalam perhitungan untuk hari raya. Karena mau bagaimanapun ceritanya, akan terasa berbeda bila umat Islam di negara kita merayakan Idul Fitri bersama dalam satu hari dibandingkan dengan merayakan dengan dua hari. Saya hanya orang awam yang berkeinginan untuk menyelaraskan nilai rasa dan persatuan antara umat Islam di negeri ini.
            Semoga kita tetap memiliki semangat untuk berubah dalam memperbaiki kualitas diri menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat untuk sesama. Di tahun baru hijriyah ini, mari kita jadikan momentum awal semua transisi yang terjadi di negeri  menjadi lebih berarti. Karena pemerintahan butuh kontribusi kita sebagai rakyatnya untuk menjalankan semua kerja besar, untuk menggerakkan bahtera dengan satu layar bernama Indonesia. Kemudian iklim butuh kontribusi dari manusia yang hidup di bumi. Sebagai manusia, makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, kita harus menjaga kelangsungan alam semesta bekerja dengan baik. Karena asap, polusi, banjir dan segala macam bencana alam yang ada di negeri kita tidak lain adalah karena ulah tangan kita sendiri,  Allah berfirman : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS.Ar Rum: 41)
            Kemudian mari kita jadikan cerminan bagi diri kita masing-masing di penutup tahun hijriyah ini. Apa yang sudah kita lakukan dalam setahun yang lalu? Adakah kontribusi nyata yang kita lakukan untuk sesama? Adakah sebuah karya yang kita hasilkan dan bisa mengangkat martabat bangsa? Atau kita hanya duduk termenung menyaksikan negeri ini mengalami transisi. Kita tak menyadari usia kita pun mulai mengalami transisi. Dari muda menuju tua, dari kuat menuju lemah, dari kehidupan yang fana menuju kehidupan yang kekal selamanya. Semoga kita tidak hanya menjadi saksi bisu sebuah fenomena transisi yang jadi trend topik di twitter atau warung kopi. Semoga kita tak sekedar pamer karya di instagram atau facebook tapi hanya bertahan sesaat kemudian tak bermanfaat dan hilang karena kita terlalu sibuk. Negeri ini akan terus mengalami transisi. Bumi kita akan terus mengalami transisi. Kita juga harus semakin cerdas memilih posisi, apakah menjadi pusat perhatian, atau tergerus habis oleh kejamnya arus informasi.

           
Jumat, 24 Oktober 2014

Akhir tahun 1435 H

0 komentar: