Sudah lewat beberapa bulan blog ini tidak memiliki
postingan baru. Bukan kurang inspirasi, bukan juga kurang inovasi. Tapi karena
memang belum ada waktu dan kesempatan yang mengizinkanku untuk berbagi sedikit
informasi di sini. Banyak hal yang terlewatkan setelah beberapa bulan absen
dari blog ini. Ada yang sebenarnya bisa berguna untuk dibagikan, tapi sayangnya
kondisiku pada saat itu terlalu malas untuk menyentuh laptop dan memulai untuk
mengetikkan semua kejadian yang terjadi.
Maka postingan kali ini kita berisi seputar resume
kejadian yang terjadi selama tiga bulan terakhir ini. Jawabannya banyak sekali.
Dan mungkin akan kita persempit ruang lingkupnya menjadi tiga pokok bahasan.
1.
Transisi
Pemerintahan
Pembahasan
mengenai pemerintahan Indonesia memang akan selalu menjadi topik seru yang
tidak pernah bosan ditayangkan di media televisi kita. Semua berita mengenai
perpindahan kekuasaan dan lain-lain diselesaikan dalam tempo yang panjang dan
bertele-tele. Beda seperti isi proklamasi kita yang ditulis oleh Bung Karno
dulu. Semua menjadi terasa rumit dan menjadikan kepala pusing tidak karuan.
Cukuplah beban penderitaan hidup yang kita alami menjadi penyebab pusingnya
pikiran kita. Jangan ditambah dengan kontaminasi berita hangat soal
perselisihan perebutan kursi ketua, keributan tentang rapat anggota dewan yang
tidak berkesudahan, sampai kehilangan palu pada saat sidang paripurna menjadi
topik yang seru dibahas di media sosial. Tidakkah mereka bisa merasakan bahwa
kami ini lelah. Lelah dapat informasi keributan, lelah dapat informasi ejekan,
dan lelah karena mengejar harga barang yang selalu naik dan tak sesuai dengan
pendapatan.
Belum
lagi berita hangat yang ditambah dengan komentar para pengamat yang merasa
paling hebat. Mereka berkomentar seolah para elit politik selalu salah, mereka
berkomentar seolah cara yang mereka tempuh oleh para wakil rakyat kurang
bijaksana. Dan apapun itu yang mereka sampaikan, rasanya hanya menyisakan
sedikit nilai kebaikan bahkan cenderung terkesan menjatuhkan. Dan hebatnya
lagi, anda bebas mau mendengar siapa yang jadi sasaran kritik dan ejekan. Ada saluran
televisi pro pemerintah atau oposisi, bisa kita pilih sendiri. Untung saja para
elit politik yang dikritik tidak sampai menyanyikan lagu Seventeen yang judulnya
Selalu mengalah. Pasti akan tambah seru kejadiannya.
Presiden
kita baru pula berganti rupa. Dari tentara menjadi seorang pengusaha. Dari seorang
yang penuh perhitungan menjadi seorang yang cekatan. Dari seorang yang hobi
menyanyi menjadi seorang yang hobi diwawancarai. Perbedaan nakhoda bahtera negara
ini belum terasa sekarang. Karena negara kita belum dibawa berlayar
kemana-mana. Masih kurang menteri dan segala pejabat pilihan pak presiden yang
katanya masih belum lolos tes segala macam. Semoga saja pak presiden tidak lupa
menetapkan komposisi kabinetnya sebelum agenda roadshow blusukan nasional
dimulai.
Pastinya
kita hanya bisa berdoa semoga transisi pemerintahan ini bisa menjadikan negara
kita lebih baik lagi. Kondisi keuangan negara yang lebih stabil, harga barang
yang tidak semakin mencekik. Dan juga semoga media kita tidak hanya disibukkan
dengan perselisihan antara Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat.
Karena bukan mereka yang kena imbas perselisihan itu, tercemarnya informasi
dari berbagai media dengan segala judul berita bisa menyebabkan banyak obrolan
di warung kopi menjadi arena debat panas seperti di ruang paripurna. Mereka memiliki
pendapat yang berbeda, akibat menonton saluran televisi yang berbeda pula. Belum
lagi status para warga sosmed yang jadi pengamat politik dadakan dengan modal
informasi baca berita satu dua artikel saja, kemudian mencela kejelekan para
wakil rakyat seolah mereka adalah para penjahat setingkat mafia yang hanya
pantas masuk neraka.
2. Transisi Iklim
Indonesia
kini tak lagi seindah lagu Koes Plus. Tak bisa lagi kita menanam tongkat, kayu,
dan batu. Mungkin kita masih bisa menemukan kolam susu. Tapi susu coklat,
karena susu putih sekarang sudah mahal di pasaran. Itu juga terjadi saat banjir
besar di tiap daerah masing-masing. Karena sudah bukan rahasia umum lagi kalau
iklim di Indonesia ini selalu menyusahkan rakyatnya. Bayangkan saja, ketika
kemarau datang, seperti saat ini. Tanah kering kerontang, tanaman kering
menguning, bukan hanya kuning, bahkan terkadang kita menemukannya sampai
kecoklatan. Belum lagi kalau ada oknum yang sepertinya merasa iba melihat
tanaman kecoklatan tadi, kemudian membakarnya hidup-hidup. Menyebarlah api,
menimbulkan asap. Mungkin bisa jadi oknum yang membakar lahan-lahan itu hanya
ingin mencoba kebenaran sebuah peribahasa yang isinya “Tidak ada asap tanpa
adanya api”. Dan kemudian karena api menyebar pada musim kemarau, maka hanya
sedikit air yang bisa dipakai untuk memadamkannya. Seiring berjalannya waktu
api yang besar dan menjalar, menyebar membakar lahan bisa padam, tapi asapnya
tetap tertinggal. Menyebar ke udara, bergabung menuju perkotaan. Karena mungkin
asap juga butuh hiburan. Mereka bosan hanya berdiam diri di ladang dan hutan.
Maka berpencarlah mereka menuju kota,
reuni akbar. Menyebar ke tempat pariwisata, ke bangunan sekolah, mall dan
pasar. Asap yang menyebar seolah menceritakan keluhannya bahwa di daerah
tempatnya berasal tidak seindah di kota. Belum berhenti sampai di situ, asap
yang berkumpul tadi pun masuk ke paru-paru warga agar mereka merasakan
bagaimana rasanya tinggal di dalam paru-paru warga kota yang setiap hari minum
susu dan tinggal dalam ruangan ber-AC.
Itulah yang hampir sebulan terakhir dialami kota
Palembang. Tempat tinggalku saat ini. Padahal aku bukan termasuk salah satu
orang kota yang rajin minum susu dan tidak juga tinggal di dalam ruangan
ber-AC, tapi asap itu sepertinya kehabisan paru-paru bersih untuk mereka
masuki. Mereka masih harus bersaing ketat dengan asap rokok dan asap knalpot
kendaraan yang sudah lama menjadi langganan orang-orang kota.
Dan musim sepertinya sudah mulai mengalami pergantian.
Penjual masker sudah mulai mengalami penurunan pemasukkan. Hujan sudah mulai
sering mampir ke Palembang. Semoga hujan bisa betah dan singgah cukup lama.
Lumayan bisa menambah debit air Sungai Musi. Tapi jangan juga hujan itu terlalu
betah singgah di sini hingga lupa singgah ke kota lain. Bogor bisa emosi karena
gelar kota hujan pindah ke Palembang. Palembang juga belum punya tetangga
seperti Jakarta yang selalu siap menampung curahan hujan setiap saat. Biarlah hujan
singgah sebentar, biar perahu kertas nya Dewi Lestari bisa singgah di Sungai
Musi dan menjadi novel Perahu Kertas chapter Palembang
3. Transisi Tahun
Revolusi bulan mengelilingi bumi adalah patokan waktu
yang dipakai oleh umat Islam sampai dengan saat ini. Revolusi bulan mengalami
waktu lebih cepat sekitar 11 hari dibandingkan dengan waktu revolusi bumi
terhadap matahari. Dan inilah yang menyebabkan para pemimpin kita di kementrian
agama memiliki agenda rutin tahunan dalam membahas waktu yang tepat untuk
melaksanakan dua hari raya Islam. Idul Fitri dan Idul Adha. Kalau di kalender
kita, besok sudah masuk tahun baru hijriyah 1436 H. Andai bisa seragam, sama di
awal puasa, sama juga di waktu hari raya, maka kita tak perlu mengalami
perdebatan yang sama di setiap tahunnya. Semoga ke depannya kita bisa saling
toleransi dalam menghadapi perbedaan posisi bulan dalam perhitungan untuk hari
raya. Karena mau bagaimanapun ceritanya, akan terasa berbeda bila umat Islam di
negara kita merayakan Idul Fitri bersama dalam satu hari dibandingkan dengan
merayakan dengan dua hari. Saya hanya orang awam yang berkeinginan untuk
menyelaraskan nilai rasa dan persatuan antara umat Islam di negeri ini.
Semoga kita tetap memiliki semangat untuk berubah dalam
memperbaiki kualitas diri menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat untuk
sesama. Di tahun baru hijriyah ini, mari kita jadikan momentum awal semua
transisi yang terjadi di negeri menjadi
lebih berarti. Karena pemerintahan butuh kontribusi kita sebagai rakyatnya
untuk menjalankan semua kerja besar, untuk menggerakkan bahtera dengan satu
layar bernama Indonesia. Kemudian iklim butuh kontribusi dari manusia yang
hidup di bumi. Sebagai manusia, makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna,
kita harus menjaga kelangsungan alam semesta bekerja dengan baik. Karena asap,
polusi, banjir dan segala macam bencana alam yang ada di negeri kita tidak lain
adalah karena ulah tangan kita sendiri, Allah
berfirman : “Telah tampak kerusakan di
darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka
merasakan sebagian (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang
benar) (QS.Ar Rum: 41)
Kemudian mari kita jadikan cerminan bagi diri kita
masing-masing di penutup tahun hijriyah ini. Apa yang sudah kita lakukan dalam
setahun yang lalu? Adakah kontribusi nyata yang kita lakukan untuk sesama? Adakah
sebuah karya yang kita hasilkan dan bisa mengangkat martabat bangsa? Atau kita
hanya duduk termenung menyaksikan negeri ini mengalami transisi. Kita tak
menyadari usia kita pun mulai mengalami transisi. Dari muda menuju tua, dari kuat
menuju lemah, dari kehidupan yang fana menuju kehidupan yang kekal selamanya. Semoga
kita tidak hanya menjadi saksi bisu sebuah fenomena transisi yang jadi trend
topik di twitter atau warung kopi. Semoga kita tak sekedar pamer karya di instagram
atau facebook tapi hanya bertahan sesaat kemudian tak bermanfaat dan hilang karena
kita terlalu sibuk. Negeri ini akan terus mengalami transisi. Bumi kita akan
terus mengalami transisi. Kita juga harus semakin cerdas memilih posisi, apakah
menjadi pusat perhatian, atau tergerus habis oleh kejamnya arus informasi.
Jumat, 24 Oktober 2014
Akhir tahun 1435 H

0 komentar:
Posting Komentar