Kita tidak sedang berbicara sebuah isi
novel. Karena kali ini hal yang ingin aku bagikan kepada kalian semua adalah
sebuah pengalaman masa kecil. Pengalaman yang indah yang selalu memiliki tempat
tersendiri untuk kita kenang dalam hati masing-masing. Baik itu pengalaman yang
baik atau yang buruk, pengalaman masa kecil adalah sebuah pelajaran yang amat
sangat berharga bagi masa depan kita. Pernah juga kan kalian mendengar sebuah
istilah masa kecil kurang bahagia? Mungkin seperti itulah kejadiannya yang
terjadi apabila anda hanya mengalami masa kecil yang biasa-biasa saja. Tapi
entah apapun yang kalian alami di masa kecil, aku yakin itu selalu berkesan.
Karena saat itulah kita bisa merasa begitu dekat dengan orang tua kita. Kita
semua pernah merasakan sentuhan kasih sayang orang-orang yang ikhlas menyayangi
kita pada masa kecil. Maka sepotong episode masa kecil itu akan aku bahas
sedikit di sini.
Catatan kecil di blog ini mungkin lebih
tepatnya sekedar curhatan subjektif menurut pendapat pribadiku. Maka dari itu,
jangan sekalipun tulisan ini menjadi bahan rujukan kalian melaksanakan
aktivitas di luar rumah. Kalau dalam film biasa tertulis tulisan “Don’t Try
This at Home”. Jangan sekalipun meniru ketidak jelasan alur tulisan ini.
Cukuplah ini menjadi bahan bacaan ketika sedang senggang.
Aku dilahirkan di kota Bekasi. Di
sanalah semua cerita itu bermula. Cerita ini hanya sekedar pengalaman. Tanpa
ada tambahan, tanpa ada pemanis buatan. Apapun itu rasanya semoga bisa
dinikmati tanpa harus berhenti di tengah cerita.
Kalian
pernah mendengar kisah Laskar Pelangi? Atau kisah tentang Negeri Lima Menara?
Itu semua adalah kisah nyata yang
dituliskan kembali oleh orang hebat yang pernah mengalami masa kecil itu.
Seorang Andrea Hirata yang dengan piawainya mampu mengisahkan perjalanan
kecilnya secara menarik dan penuh pelajaran tentang hidup. Kemudian bagaimana
seorang Ahmad Fuadi yang mengisahkan cerita masa kecilnya dengan penuh
pelajaran moral dan motivasi. Namun di sini aku tidak bermaksud untuk
membandingkan hasil karya fenomenal mereka dengan coretan kecil yang aku buat
di blog ini.
Perjalanan itu bermula dari sebuah
sekolah dasar yang namanya memiliki arti Dua Kebaikan. Sekolah Islami yang
terletak di kawasan Harapan Baru. Sebuah tempat yang mungkin saja menyajikan
sebuah harapan tentang kehidupan yang baru. Atau mungkin pula kawasan dimana
semua harapan berkumpul menjadi satu untuk membentuk cita-cita baru. Entah apa
filosofi tempat itu, aku masih terlalu muda untuk paham soal itu. Yang aku
mengerti, bahwa aku harus bangun pagi sekali, bersiap pergi ke sekolah agar
tidak terlambat, kemudian kembali pulang ke rumah sore hari. Hal itu aku jalani
selama 6 tahun sekolah di sana.
Aku bersama beberapa orang temanku
menjadi pelopor siswa di sekolah itu. Ya, saat itu kami tidak memiliki kakak
kelas. Kami merupakan murid angkatan pertama di SD itu. Kami lah yang mewarnai
sekolah itu dengan kenakalan-kenakalan kami, kami yang mewarnai sekolah itu
dengan canda tawa, kami pula yang kemudian meneteskan airmata sebagai alumni
pertama yang harus meninggalkan semua kenangan masa kecil kami di sekolah itu.
Buatku, semuanya sangat berkesan.
Menjadi angkatan pertama di sekolah dasar itu enak sekali. Kita tidak perlu
takut menghadapi ancaman kakak kelas. Tidak perlu cemburu dengan perhatian
guru-guru yang terbagi dengan siswa lain. Tapi susahnya, setiap kenakalan yang
kita lakukan akan selalu diingat oleh para guru. Jadi seolah-olah kita terikat
dengan kenakalan kita itu. Terlepas dari itu semua, aku bersyukur karena Allah
memberikan kami guru-guru SD yang begitu baik dan cerdas dalam mendidik kami.
Karena atas perjuangan mereka pula, kami bisa menjadi seperti sekarang ini.
Cerita ini bukanlah fiksi, ini kisah
hidup yang nyata. Yang boleh kalian jadikan pelajaran atau sekedar bahan
tertawaan. Perlu kalian ketahui, dengan jumlah siswa yang hanya sekitar 20
orang, kami memulai tahun ajaran baru di sekolah dasar tersebut. Lokasinya
terletak di dekat perumahan penduduk. Cukup asri pada saat itu. Karena masih
banyak terdapat sawah di kanan kiri. Bangunan sekolah pada tahun pertama kami
bersekolah di sana hanya terdapat beberapa ruangan. Itu diantaranya difungsikan
sebagai Mahad dan Kantor yayasan. Al Husnayain, itu nama sekolah kami. Bernaung
di bawah yayasan Al-Husnayain, kami mengawali perjalanan panjang kami sebagai
siswa generasi pertama Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Husnayain.
Banyak siswa yang keluar masuk silih
berganti di angkatan kami. Dan itu akan
selalu kami ingat, meski tak semuanya akan aku ceritakan di sini. Karena pada
akhirnya, hanya sekitar 22 orang siswa yang berhasil menuliskan namanya dalam
catatan sejarah angkatan pertama SDIT Al-Husnayain. Enam orang siswa dan 16
orang siswi. Dan para alumni inilah yang akan aku ceritakan kepada kalian
semua, meski tidak terlalu detil hingga ukuran sepatu, celana ataupun baju.
Sebagai salah satu siswa putra yang
memiliki tinggi badan kurang dari rata-rata, aku terlihat berbeda dibandingkan
dengan yang lain. Tapi keuntungannya, aku begitu dikenal oleh guru-guru. Karena
setiap dilaksanakan upacara atau apapun itu yang sifatnya baris berbaris, aku
selalu ditempatkan di posisi paling depan. Keuntungan lainnya adalah, seragam
yang aku kenakan tak pernah terasa kecil ataupun sempit. Jadi hal itu juga bisa
menghemat pengeluaran orangtuaku untuk membeli seragam baru. Entah karena
kurang hormon pertumbuhan atau karena keturunan, tinggi badan inilah yang
akhirnya menjadi identitasku di antara kawan-kawanku. Tapi itu tak menjadi
soal. Toh kini tinggi badanku tidak terlalu ketinggalan dibandingkan dengan
kawan-kawan SD dulu. Yah meskipun sekarang tinggi badanku juga tidak melebihi
tinggi badan mereka, aku tetap bersyukur. Lagipula tulisan ini tidak akan
membahas ukuran tinggi badanku dengan teman-teman yang lain. Ini hanyalah
pembuka tulisan yang begitu membosankan. Maka untuk menghindari kebosanan itu,
aku becerita sedikit tentang ciri-ciri fisikku agar kalian iba saat membaca
tulisan ini dan meutuskan untuk membacanya sampai akhir.
Begitu banyak hal yang kami lewati
di sekolah istimewa itu. Hingga aku lupa darimana harus memulai semua ceritanya.
Untuk mempermudah mengingat momen tersebut, mari kita mulai dengan memisahkan
beberapa kategori yang menurutku cukup penting untuk dibahas.
Kategori
Terpandai
Seperti sekolah pada
umumnya, sekolah kami juga memiliki siswa terpandai di kelasnya. Bahkan di
angkatannya. Kecerdasan yang dimiliki oleh temanku itu benar-benar di atas
rata-rata. Setiap ada pembagian raport, tak sekalipun kami pernah melakukan
kudeta terhadap peringkat juara di kelas kami. Bukan karena tidak ada yang
berani, tapi karena temanku itu memang tak mampu untuk kami rebut posisi
klasemennya. Dia adalah Dewi Ari Wijayanti. Saingan terbesarku untuk meraih
peringkat nomor 1. Partner setia setiap lomba. Motivator kami dalam mendapatkan
nilai tertinggi di kelas. Dan dia adalah teman kami yang paling disayang oleh
Allah. Dia adalah teman SD kami yang pertama memenuhi panggilan Ilahi.
Kecerdasan yang dimilikinya belum sempat mengubah negeri, Keceriaannya belum
sempat menginspirasi banyak penerus generasi. Cukuplah semua amal baiknya yang
akan menjadi saksi bahwa hidupnya benar-benar memiliki arti di hati kami. Dan
sekalipun kami tak akan pernah bisa mengejar semua prestasinya, karena kami
yakin, hanya ada satu juara kelas di antara kami, dialah Dewi Ari Wijayanti.
Kategori Tertinggi jilid 1
Untuk kategori yang
satu ini, sepertinya hanya berlaku di masa SD. Karena pada masa SD inilah
pertumbuhan badan terlihat begitu jelas. Itu berlaku untuk semua anak, tapi
sepertinya tidak berlaku sepenuhnya untukku. Pada awalnya, anak putra tertinggi
di SD kami adalah Ahmad, nama lengkapnya Ahmad Azis Baswedan. Dia temanku yang
merupakan keturunan arab. Kulitnya putih, rambutnya ikal hitam agak kecoklatan,
dan badannya jangan ditanya, seperti postur tubuh orang arab lainnya, tinggi
besar. Aku selalu terlihat kecil ketika berjalan beriringan dengannya. Dia juga
merupakan sahabatku yang paling akrab. Karena beberapa waktu, aku sering tidur
di rumahnya. Hanya untuk bermain atau mengerjakan tugas bersama. Posisi Ahmad
sebagai anak putra yang paling tinggi kemudian mendapat saingan dari Iqbal.
Nama lengkapnya Muhammad Iqbal. Dia tinggal tidak jauh dari sekolah. Bahkan
bisa dikategorikan dekat sekali. Rumahnya terlihat jelas dari sekolah kami di
lantai dua. Iqbal memiliki tinggi badan yang tidak jauh beda dengan Ahmad.
Tinggi. Namun ukuran tubuhnya tidak sebesar Ahmad, Iqbal mungkin anak yang
terlangsing di antara kami. Dia murid pindahan. Dan ketika dia bergabung
menjadi kawan kami, dia langsung menjadi pusat perhatian, karena kehebatannya
dalam olahraga apapun. Aku juga termasuk teman yang akrab dengannya. Kami
berdua tergabung ke dalam tim nasyid di sekolah itu. Iqbal adalah anak yang
paling perfeksionis. Dia selalu melakukan semua hal dengan usaha yang maksimal.
Baik itu dalam mengerjakan tugas, berolahraga, maupun dalam penampilan. Mungkin
dia lah anak putra yang paling rapi di antara kami. Persaingan antara Ahmad dan
Iqbal dalam ukuran tinggi badan akhirnya dikalahkan oleh teman kami yang
bernama Defra Yudha. Dia murid pindahan dari Padang Pariaman. Badannya melebihi
tinggi Ahmad dan Iqbal, dan jangan tanyakan sebatas mana tinggi badanku apabila
berdiri di sebelahnya. Defra adalah anak yang serius diantara kami. Tapi dia
punya banyak pengalaman yang seru untuk diceritakan. Dan aku salah satu
temannya yang sering menyimak cerita itu. Apabila Defra memegang puncak
klasemen dalam hal tinggi badan di antara siswa putra, maka akan aku ceritakan
pula kepada kalian siapa siswi putri yang memegang gelar tertinggi di antara
mereka. Kini Ahmad bekerja sebagai seorang supervisor di sebuah perusahaan di
bilangan Jakarta. Dengan kemampuannya bergaul, dia mudah mendapatkan banyak
klien dan teman. Iqbal kini sudah menikah. Dia kini memiliki tanggung jawab
lebih sebagai anak dari ibunya, dan sebagi pemimpin rumah tangga. Iqbal juga
merupakan siswa putra pertama yang menikah di angkatan kami. Dia adalah orang
yang tekun dan perfeksionis. Wajar saja apabila dia selalu memiliki target
dalam perjalanan hidupnya. Kabar terakhir dari Defra aku dapatkan beberapa
bulan yang lalu. Dia kini menetap di Padang untuk melanjutkan studinya. Semoga
Allah masih mengizinkanku bertemu para ‘pencakar langit’ ini
Kategori Tertinggi jilid 2
Allah itu Maha Adil.
Dia tidak menciptakan sesuatu apapun tanpa memiliki maksud tertentu di
belakangnya. Namun hal itu berubah saat aku mengetahui ada temanku yang bernama
Istiqomah Dwi Putri. Badannya tinggi dan besar. Sebagai pencinta film doraemon,
aku melihatnya mirip seperti tokoh Giant. Hanya saja, temanku ini perempuan. Awal
mula kami di kelas satu, Isti merupakan bintang kelas. Kenapa aku menyebutnya
bintang kelas? Hal ini karena ketika Isti menangis ingin sesuatu, guru-guru
kami akan disibukkan oleh kelakuannya. Dan bisa jadi, kami menjadi penonton
setia dari balik meja tanpa mendapatkan pelajaran sekalipun. Peringkat Isti
dalam tinggi badan baru bisa dikalahkan oleh kehadiran salah satu teman baru
kami di kelas 4. namanya Melati Herita. Ah tak usahlah kalian membayangkan
bagaimana posisiku saat mengobrol dengannya. Karena aku jarang sekali berbicara
dengan Melati. Malu nya setengah mati ketika aku coba untuk mendongakkan kepala
bertanya sesuatu. Kalau ada kursi, terkadang aku naik kursi, bahkan naik meja
supaya terlihat lebih tinggi dan tidak perlu mendongakkan kepala. Tapi, yah
kebanyakan kursi dan meja hanya menjadi saksi yang tertawa dalam diam ketika
melihat aku yang mau tidak mau harus berbicara dengannya tanpa bantuan apa-apa.
Mendongakkan kepala di depan cewek yang lebih tinggi itu butuh mental super. Dan
sampai akhir kelulusan, Melati menjadi pemimpin puncak klasemen siswi tertinggi
di angkatan pertama SDIT Al-Husnayain. Isti sekarang pasca lulus kuliahnya
mengabdikan diri sebagai pegawai di sebuah
Universitas Negeri di Jakarta. Badan Isti yang dulu mengalami sedikit
penyusutan karena pengabdiannya itu. Tidak jauh beda dengan Melati, dengan
kelebihan tinggi badannya itu, dia kini menjadi seorang guru SMK yang mampu
menjangkau pandangannya ke seluruh sudut kelas.
Kategori Terlincah
Kategori Terlincah
Sebagai anak kecil pada
umumnya, di sekolahku juga banyak terdapat anak-anak dengan tingkat mobilitas
yang tinggi. Dalam hal ini aku menyebutnya lincah. Kalau dalam kategori ini,
sepertinya aku juga tidak masuk ke dalam hitungan. Karena aku orangnya pemalas.
Persis seperi nobita dalam doraemon. Kalau dari siswa putra, kategori yang
paling lincah ini sepertinya dipegang oleh teman akrabku Sandy Jundana. Dia
anak yang periang. Suka menolong, dan tidak sombong. Entah dia hafal pancasila
atau tidak, yang pasti dia adalah anak yang paling aktif di antara kami. Kehebatannya
dalam mengolah si kulit bundar bersaing dengan Iqbal dan Defra. Kehebatannya
dalam bidang kesenian juga selalu menjadi juara di antara kami siswa putra.
Semua tokoh kartun yang ada di televisi bisa digambarnya. Sandy memiliki
imajinasi yang begitu tinggi. Kami selalu bercerita banyak khayalan tentang
fim, animasi dan teknologi masa depan. Hafalan lagu nya banyak sekali, mulai
dari Sheila On 7 sampai tim nasyid Hijjaz pun dia hafal. Mungkin karena
kemampuan dia yang mudah menghafal lagu itulah, makanya dia kini berprofesi
sebagai seorang DJ.
Beda halnya dengan
Sandy. Kawanku yang satu ini juga termasuk ke dalam kategori siswa yang
terlincah di kelas. Namanya Putri Imas Julianti. Imas biasa kami memanggilnya,
adalah siswa terlincah di antara siswi putri yang ada. Orangnya baik hati,
tidak sombong, dan suara itu loh, bikin merinding. Dia memiliki suara tinggi
yang cukup bersih di antara teman-temanku yang lain. Maka dari itu, dia juga
terpilih sebagai vokalis tim nasyid kami. Kami dulu memiliki tim nasyid yang
beranggotakan cukup banyak personil. Personilnya juga merupakan kombinasi
antara siswa putra dan putri. Imas sebagai vokalis 1 dan aku sebagai vokalis 2.
Jadi aku juga pernah berduet dengan Imas dalam satu panggung diiringi oleh
backing vokal yang merupakan kawan-kawan kami satu tim. Imas selalu lapang dada
menyediakan rumahnya sebagai tempat latihan kami di luar sekolah. Padahal mungkin
saja karena suara kami, banyak kaca-kaca di rumahnya yang bergeser dari
tempatnya. Imas selalu menampilkan keceriaan di wajahnya. Dalam kondisi apapun
itu. Dan sepertinya Allah membutuhkan keceriaannya untuk mewarnai JannahNya.
Imas adalah siswa kedua yang dipanggil Allah beberapa bulan yang lalu. Benar kata
orang banyak, orang baik itu biasanya hidupnya tidak lama. Karena kebaikannya
di dunia sudah cukup sebagai bukti untuk Allah menempatkan di sebaik-baiknya
tempat di SyurgaNya. Dan tahukah kalian, apa nama tim nasyid kami? Namanya adalah
PELANGI. Dengan spektrum warna yang begitu indah, Imas telah berhasil mewarnainya.
Spektrum warna yang dia hasilkan cukup membuat kita mengerti bahwa ada satu
sahabat terbaik yang pernah miliki dalam hidup kita. Dan itu adalah Putri Imas
Julianti
Dari
beberapa kategori itu sebenarnya masih
ada beberapa lagi teman-temanku yang belum aku ceritakan. Bukannya aku tidak
bermaksud untuk menambah kategori ter- yang lain. Tapi aku rasa, empat kategori
itu cukup objektif untuk aku tuliskan, daripada aku harus menambah kategori
tercantik, tertampan dan lain sebagainya. Maka dari itu, untuk menceritakan
beberapa kawanku yang belum lengkap, aku akan memperluas topik pembahasan nya.
Dari total enam orang siswa putra,
ada satu orang yang belum sama sekali aku sebut namanya. Dia adalah Hamzah
Fuad. Namanya boleh saja sama denganku. Tapi, soal hafalan dan ilmunya, aku
ketinggalan jauh di belakangnya. Dia saat ini telah hafal 30 Juz AlQuran. Sedangkan
aku, hafalan sejak SD dulu sampai sekarang sepertinya tidak ada perubahan yang
berarti. Hanya bertambah beberapa surat, kemudian lupa surat yang lainnya. Fuad
merupakan kawanku yang paling pendiam di antara kami. Tapi jangan salah, dalam soal
olahraga, maupun pelajaran yang lainnya, ia selalu melebihiku. Dia juga
merupakan siswa putra yang paling muda di antara kami. Aku selalu bangga
memiliki sahabat yang baik dan sholeh seperti Fuad. Karena itu bisa memotivasi
diriku agar lebih baik. Mungkin Fuad adalah contoh alumni terbaik di angkatan
kami yang benar-benar mencerminkan alumni SDIT. Jago dalam hafalan, hebat dalam
keilmuan. Ah iya, sekilas mirip sekali dengan cerita Ahmad Fuadi sang pengarang
Negeri Lima Menara. Mungkin Fuad bisa jadi penerusnya, ah tidak, bahkan bisa
lebih dari itu. Aku yakin sahabatku ini adalah yang terbaik.
Kemudian beberapa siswa putri yang
cenderung pendiam juga akan aku kelompokkan menjadi satu. Mereka adalah Ayu
Arni Sarah, Shifa Al Ahrami, Qonita Lutfiyah dan Bunga Tresna Asmaradita
Rusdianto. Nama yang terakhir kusebutkan itu memegang rekor nama terpanjang di
angkatan kami. Jadi kami biasa menyebutnya Bunga TAR. Aku kira, alasan mereka
memutuskan untuk menjadi pendiam karena mereka baru bergabung dengan keluarga
Al Husnayain. Jadi mereka kurang tahu sejarah seorang Isti yang bintang kelas,
mereka kurang tahu sejarah Ahmad yang selalu rajin buat teman-teman jengkel. Dan
masih banyak cerita lain yang mungkin hanya mereka dapatkan dari cerita
pengalaman teman-teman lain. Meskipun begitu, aku selalu yakin bahwa mereka
memiliki cerita indah yang terukir abadi dalam hati mereka masing-masing. Dan untuk
saat ini, aku menyadari keterbatasanku. Aku juga tak ingin merusak keaslian
cerita indah mereka. Maka biarlah terlukis asli dalam hati. Karena selama itu
juga aku akan selalu mengingat bahwa mereka akan jadi sahabatku selamanya.
Lepas dari siswa pendiam, mari kita
menceritakan sedikit teman-temanku yang mampu mewarnai suasana kelas dengan
celotehnya. Mereka ada tiga orang. Cory Karima, Dina Mukaromah Akbar, dan Reka
Pratita Lestari. Cory dan Reka adalah sahabat akrab yang selalu membuat suasana
kelas menjadi lebih hidup. Apalagi ketika jam kosong. Mereka berdua adalah
siswi yang paling kreatif. Ada saja hal yang dibuatnya sehingga membuat
teman-teman penasaran hingga berkumpul bersama mereka. Wajar saja kini Cory
menjadi pengusaha. Dengan kemampuannya itu, dia bisa menarik banyak konsumen yang
dia yakini menguntungkan bisnisnya. Lain lagi dengan Reka, dia kini menjadi
seorang petualang, pencinta alam, fotografer handal. Ah dua kombinasi bakat
alami yang akan sulit kalian temukan dimanapun. Berbeda lagi halnya dengan
Dina. Dina hanya akan membuat suasana seru ketika dia ikut dilibatkan di
dalamnya. Dina kurang begitu berminat menjadi pelopor suasana. Tapi jangan
salah, ketika kita mengikut sertakan Dina dalam sebuah kerja kelompok atau
curhat, maka dia akan menjadi bumbu penyedap dengan banyolan asli yang langsung
membuat tawa kita meledak di mulut. Semua joke
yang dia sampaikan memang hasil kreasi buah pikirannya. Wajar saja banyak
kawan-kawan Dina yang berasal dari luar negeri. Hal ini karena kemampuan
seorang Dina yang mampu membuat obrolan dengan lawan bicaranya terasa segar tanpa
ada hal yang dibuat-buat.
Dan yang terakhir ini adalah
teman-temanku yang merupakan anak dari kawan-kawan pengajian orangtuaku. Beberapa dari
mereka adalah buah karya dakwah. Didikan alami dari pasangan orangtua tarbiyah.
Mereka adalah Annisa Rahma, Asma Az Zahra, Khaula Fathina, Shofi Hanifah, dan
Ummul Husna Aulia. Sebenarnya Hamzah Fuad juga termasuk ke dalam kategori ini. Tapi
berhubung dia sudah aku ceritakan di kolomnya sendiri, maka akan aku ceritakan
kelima temanku yang lainnya. SDIT Al Husnayain ini merupakan sekolah islami
yang didirikan oleh beberapa pengurus yayasan yang memang telah bergerak dalam
dakwah yang biasa dikenal dengan nama tarbiyah. Pemilik yayasan itu adalah
orang tua dari Khaula, dalam operasionalnya dibantu dengan orang tua Zahra,
orang tua Husna, orang tua Nisa, dan orang tua Shofi. Maka jadilah kami ini
anak-anaknya harus menjadi contoh yang mengisi sekolah itu sebagai angkatan
pertama. Banyak jadwal pelajaran yang belum lazim kami dapatkan seperti di SD
lainnya, seperti Tahfidz, Tilawah, Hadist, Akidah Akhlaq dan lain sebagainya.
Sebagai
anak dari pemilik yayasan, Khaula tak terlihat berbeda dengan anak-anak
lainnya. Bahkan dia merupakan siswa yang mudah bergaul dengan siapapun.
Termasuk denganku. Dan aku termasuk orang yang pernah menjadi secret admire
nya. Masa kecil itu sungguh lucu dan selalu membuatku tertawa. Karena sejak itu
aku selalu salah tingkah dan malu apabila berbicara dengannya di depan orang
banyak. Maka telepon yang jadi sarana komunikasi untuk beberapa waktu. Lain
lagi dengan Nisa. Dia temanku yang baik, tapi terlalu lugu. Tidak jarang Nisa
menjadi bahan kejahilan Isti dkk. Meskipun sering dijahili, Nisa tak pernah
memiliki dendam apapun, mungkin ini berkat hasil didikan orangtuanya di rumah,
entah aku juga kurang paham. Beda lagi dengan Shofi. Shofi adalah anak yang
seru ketika kecil. Dia dan Ahmad sering melempar ejekan satu sama lain. Belum lagi
gaya bicara seorang shofi yang begitu cepat. Nisa, Khaula, dan Shofi kini telah
menikah dan mempunyai cerita tersendiri dalam membina keluarga kecilnya. Tanpa bermaksud
apapun, aku hanya mengulas kembali cerita masa kecil yang pernah aku lalui. Semoga
mereka berkenan dan memaafkan kesalahan penyampaian yang kurang berkenan.
Kemudian
Zahra adalah salah satu temanku yang biasa bermain di sekolah sampai sore. Rumahnya
tidak jauh dari sekolah, maka dari itu terkadang aku juga suka bermain bersama
adiknya Zubair dan Yahya. Oh iya Zahra juga merupakan saudara sepupu dari
Sandy. Makanya mereka terlihat akrab satu sama lain.
Husna
merupakan temanku yang periang, temanku yang satu ini adalah sahabat akrab dari
Khaula. Ada saja yang mereka bahas. Dan aku tak pernah tahu soal apa itu. Zahra
dan Husna melanjutkan studi mereka di bidang akuntansi, dan kini Zahra bertugas
sebagai seorang officer di sebuah Bank milik pemerintah daerah. Dan Husna kini bertugas keliling Indonesia sebagai
auditor.
Dari
kelima temanku tadi, mereka memiliki hafalan AlQuran yang luar biasa banyak. Yah
sesuai dengan bimbingan dan kasih sayang orang tua mereka. Dipimpin oleh Fuad
yang seorang Hafidz. Ah semoga Allah juga mengizinkan kita reuni kelak di
SyurgaNya.
Teman-temanku memiliki masa depan
yang begitu cemerlang. Semua terlihat membahagiakan dengan cerita dan impiannya
yang mulai terwujud satu persatu. Mungkin beberapa waktu yang akan datang
setelah tulisan ini diposting, akan muncul orang-orang besar dari nama yang aku
sebutkan di atas. Aku hanya merasa perlu menuliskan cerita masa kecilku. Karena
aku merasa masa kecil itu benar-benar istimewa. Membahagiakan setiap
mengingatnya, memotivasi setiap merenunginya.
Karena masa kecil yang luar biasa
itulah aku bisa bertemu teman-temanku, menemukan indahnya persahabatan. Persahabatan
masa kecil itu memang begitu indah. Terlalu jujur untuk dijalani. Tak ada yang
namanya berkhianat karena kepentingan, materi, atau kekuasaan. Kami masih
terlalu kecil untuk mengerti tentang semua itu. Semua tawa terasa lepas, semua
canda terasa ikhlas.
Dan di masa itu juga aku mengenal
perpisahan. Perpisahan dengan beberapa teman yang pindah sekolah, perpisahan
dengan teman yang lulus, perpisahan dengan dengan semua guru-guru yang tak
pernah lelah mengajarkan kami arti kehidupan. Dan perpisahan selamanya dengan
dua orang sahabat terbaik yang pernah kami miliki. Maka tangis masa kecil
itulah yang selalu kami jadikan pengingat bahwa hidup ini fana. Tangis perpisahan
itulah yang selalu kami jadikan pedoman bahwa tak ada yang abadi. Dan tangis
haru itu yang mengajarkan bahwa hidup berjalan bukan seperti apa yang kita
inginkan.
Kalaupun ada cinta yang bersemai, maka
itu sebatas persahabatan. Persahabatan didasarkan cinta, hasilnya akan jauh
lebih indah bukan? Maka di masa kecil kita, tanpa kita sadari kita selalu
menebar cinta, kita selalu menanam benihnya. Dan sadarkah kalian bahwa benih
itu kini tumbuh, berkembang, meninggi, kemudian bersemai dengan indah dalam
sebuah bentuk yang kita sebut UKHUWAH. Maka inilah yang akan kita jaga
dimanapun kalian berada. Bagaimanapun masa kecil yang kita jalani, sadarilah
ketika persahabatan itu berlandaskan cinta dalam kedekatan kita kepada Rabbnya,
maka di situ pula benih ukhuwah mulai tersebar.
Pada akhirnya, semoga kita bisa menjaga
jalinan Ukhuwah ini dengan indah. Semoga kita bisa menjaga ikatan persahabatan
ini dengan manis. Lebih manis dari madu, lebih indah dari berlian. Karena bukan
hanya dunia yang akan kita jadikan tempat reuni, tapi Syurga Allah yang Maha
Indah. Jannah Allah yang Maha Mulia. Sebaik-baiknya tempat kembali. Dua sahabat
kita sudah tidak sabar menunggu kehadiran kita untuk kembali bereuni bersama. Bercerita
bersama. Bahwa kita masih memegang janji-janji itu. Bahwa kita masih memegang
mimpi-mimpi itu. Mimpi yang akan selalu memotivasi diri kita untuk menjadi
lebih baik dengan Husnayain. Dua Kebaikan, di dunia dan di akhirat. Reuni di
Syurga.
Goresan
kecil menyambut Bulan Ramadhan 1435 H
Mohon
Maaf Lahir dan Batin
Menjelang
Maghrib di Palembang,
27
Juni 2014

3 komentar:
Nice posting,bro...
Allah selalu bersamamu,dhan...
dan akan selalu menaungi setiap langkah kebaikan kita...
semoga kita kelak berkumpul di Surga-Nya..aammiinn...
Assalamualaikum...
dari sebuah keisengan cari nama sendiri malem2, akhirnya nemuin blog ini. :p
saya salah satu "penghuni" di post ini. senang rasanya bisa menjadi bagian dari keluarga besar ini.
keren bgt bisa hapal semua namanya. bahkan menceritakannya satu2. makasih lho udah membangkitkan kembali kenangan jaman sd dulu. :D
berkat postingan ini, akhirnya jadi tau kabar temen2 sd dulu. alhamdulillah. :)
maaf ya berantakan komennya. soalnya saya termasuk "silent reader" di beberapa tempat dan sekarang sedang terlalu senang mendengar kabar terkini dari temen2 lama. :)
sukses ya hamzah. sekali lagi terima kasih. :)
oia, satu lagi, ternyata setelah liat akte lahir, nama saya tidak sepanjang itu. hahaha...
Bah.. keren mak.. merinding saya bacanya.. berasa hidup ceritanya.. kalau bisa posting fotonya :D...
Beli makan siang di warteg bareng di ungkit juga kalau bisa..
Trus beli nya pake sepeda yang ngak tau itu sepeda siapa.. Wkwkwkkw
Pokoknya ada yang keren di pake.. :D
Salam rindu untuk semuanya :)
Berpisah bukan berarti bercerai.. sambung terus silaturrahmi..
Padang, 9 oktober 2014
Posting Komentar