Bercerita tentang kesederhanaan hidup

Jumat, 27 Juni 2014

Reuni Di Syurga

18.22 Posted by hamzah ramadhan , , 3 comments
Kita tidak sedang berbicara sebuah isi novel. Karena kali ini hal yang ingin aku bagikan kepada kalian semua adalah sebuah pengalaman masa kecil. Pengalaman yang indah yang selalu memiliki tempat tersendiri untuk kita kenang dalam hati masing-masing. Baik itu pengalaman yang baik atau yang buruk, pengalaman masa kecil adalah sebuah pelajaran yang amat sangat berharga bagi masa depan kita. Pernah juga kan kalian mendengar sebuah istilah masa kecil kurang bahagia? Mungkin seperti itulah kejadiannya yang terjadi apabila anda hanya mengalami masa kecil yang biasa-biasa saja. Tapi entah apapun yang kalian alami di masa kecil, aku yakin itu selalu berkesan. Karena saat itulah kita bisa merasa begitu dekat dengan orang tua kita. Kita semua pernah merasakan sentuhan kasih sayang orang-orang yang ikhlas menyayangi kita pada masa kecil. Maka sepotong episode masa kecil itu akan aku bahas sedikit di sini.
Catatan kecil di blog ini mungkin lebih tepatnya sekedar curhatan subjektif menurut pendapat pribadiku. Maka dari itu, jangan sekalipun tulisan ini menjadi bahan rujukan kalian melaksanakan aktivitas di luar rumah. Kalau dalam film biasa tertulis tulisan “Don’t Try This at Home”. Jangan sekalipun meniru ketidak jelasan alur tulisan ini. Cukuplah ini menjadi bahan bacaan ketika sedang senggang.
Aku dilahirkan di kota Bekasi. Di sanalah semua cerita itu bermula. Cerita ini hanya sekedar pengalaman. Tanpa ada tambahan, tanpa ada pemanis buatan. Apapun itu rasanya semoga bisa dinikmati tanpa harus berhenti di tengah cerita.
Kalian pernah mendengar kisah Laskar Pelangi? Atau kisah tentang Negeri Lima Menara?
Itu semua adalah kisah nyata yang dituliskan kembali oleh orang hebat yang pernah mengalami masa kecil itu. Seorang Andrea Hirata yang dengan piawainya mampu mengisahkan perjalanan kecilnya secara menarik dan penuh pelajaran tentang hidup. Kemudian bagaimana seorang Ahmad Fuadi yang mengisahkan cerita masa kecilnya dengan penuh pelajaran moral dan motivasi. Namun di sini aku tidak bermaksud untuk membandingkan hasil karya fenomenal mereka dengan coretan kecil yang aku buat di blog ini.
Perjalanan itu bermula dari sebuah sekolah dasar yang namanya memiliki arti Dua Kebaikan. Sekolah Islami yang terletak di kawasan Harapan Baru. Sebuah tempat yang mungkin saja menyajikan sebuah harapan tentang kehidupan yang baru. Atau mungkin pula kawasan dimana semua harapan berkumpul menjadi satu untuk membentuk cita-cita baru. Entah apa filosofi tempat itu, aku masih terlalu muda untuk paham soal itu. Yang aku mengerti, bahwa aku harus bangun pagi sekali, bersiap pergi ke sekolah agar tidak terlambat, kemudian kembali pulang ke rumah sore hari. Hal itu aku jalani selama 6 tahun sekolah di sana.
Aku bersama beberapa orang temanku menjadi pelopor siswa di sekolah itu. Ya, saat itu kami tidak memiliki kakak kelas. Kami merupakan murid angkatan pertama di SD itu. Kami lah yang mewarnai sekolah itu dengan kenakalan-kenakalan kami, kami yang mewarnai sekolah itu dengan canda tawa, kami pula yang kemudian meneteskan airmata sebagai alumni pertama yang harus meninggalkan semua kenangan masa kecil kami di sekolah itu.
Buatku, semuanya sangat berkesan. Menjadi angkatan pertama di sekolah dasar itu enak sekali. Kita tidak perlu takut menghadapi ancaman kakak kelas. Tidak perlu cemburu dengan perhatian guru-guru yang terbagi dengan siswa lain. Tapi susahnya, setiap kenakalan yang kita lakukan akan selalu diingat oleh para guru. Jadi seolah-olah kita terikat dengan kenakalan kita itu. Terlepas dari itu semua, aku bersyukur karena Allah memberikan kami guru-guru SD yang begitu baik dan cerdas dalam mendidik kami. Karena atas perjuangan mereka pula, kami bisa menjadi seperti sekarang ini.
            Cerita ini bukanlah fiksi, ini kisah hidup yang nyata. Yang boleh kalian jadikan pelajaran atau sekedar bahan tertawaan. Perlu kalian ketahui, dengan jumlah siswa yang hanya sekitar 20 orang, kami memulai tahun ajaran baru di sekolah dasar tersebut. Lokasinya terletak di dekat perumahan penduduk. Cukup asri pada saat itu. Karena masih banyak terdapat sawah di kanan kiri. Bangunan sekolah pada tahun pertama kami bersekolah di sana hanya terdapat beberapa ruangan. Itu diantaranya difungsikan sebagai Mahad dan Kantor yayasan. Al Husnayain, itu nama sekolah kami. Bernaung di bawah yayasan Al-Husnayain, kami mengawali perjalanan panjang kami sebagai siswa generasi pertama Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Husnayain.
            Banyak siswa yang keluar masuk silih berganti di angkatan kami.  Dan itu akan selalu kami ingat, meski tak semuanya akan aku ceritakan di sini. Karena pada akhirnya, hanya sekitar 22 orang siswa yang berhasil menuliskan namanya dalam catatan sejarah angkatan pertama SDIT Al-Husnayain. Enam orang siswa dan 16 orang siswi. Dan para alumni inilah yang akan aku ceritakan kepada kalian semua, meski tidak terlalu detil hingga ukuran sepatu, celana ataupun baju.
            Sebagai salah satu siswa putra yang memiliki tinggi badan kurang dari rata-rata, aku terlihat berbeda dibandingkan dengan yang lain. Tapi keuntungannya, aku begitu dikenal oleh guru-guru. Karena setiap dilaksanakan upacara atau apapun itu yang sifatnya baris berbaris, aku selalu ditempatkan di posisi paling depan. Keuntungan lainnya adalah, seragam yang aku kenakan tak pernah terasa kecil ataupun sempit. Jadi hal itu juga bisa menghemat pengeluaran orangtuaku untuk membeli seragam baru. Entah karena kurang hormon pertumbuhan atau karena keturunan, tinggi badan inilah yang akhirnya menjadi identitasku di antara kawan-kawanku. Tapi itu tak menjadi soal. Toh kini tinggi badanku tidak terlalu ketinggalan dibandingkan dengan kawan-kawan SD dulu. Yah meskipun sekarang tinggi badanku juga tidak melebihi tinggi badan mereka, aku tetap bersyukur. Lagipula tulisan ini tidak akan membahas ukuran tinggi badanku dengan teman-teman yang lain. Ini hanyalah pembuka tulisan yang begitu membosankan. Maka untuk menghindari kebosanan itu, aku becerita sedikit tentang ciri-ciri fisikku agar kalian iba saat membaca tulisan ini dan meutuskan untuk membacanya sampai akhir.
            Begitu banyak hal yang kami lewati di sekolah istimewa itu. Hingga aku lupa darimana harus memulai semua ceritanya. Untuk mempermudah mengingat momen tersebut, mari kita mulai dengan memisahkan beberapa kategori yang menurutku cukup penting untuk dibahas.

Kategori Terpandai
Seperti sekolah pada umumnya, sekolah kami juga memiliki siswa terpandai di kelasnya. Bahkan di angkatannya. Kecerdasan yang dimiliki oleh temanku itu benar-benar di atas rata-rata. Setiap ada pembagian raport, tak sekalipun kami pernah melakukan kudeta terhadap peringkat juara di kelas kami. Bukan karena tidak ada yang berani, tapi karena temanku itu memang tak mampu untuk kami rebut posisi klasemennya. Dia adalah Dewi Ari Wijayanti. Saingan terbesarku untuk meraih peringkat nomor 1. Partner setia setiap lomba. Motivator kami dalam mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Dan dia adalah teman kami yang paling disayang oleh Allah. Dia adalah teman SD kami yang pertama memenuhi panggilan Ilahi. Kecerdasan yang dimilikinya belum sempat mengubah negeri, Keceriaannya belum sempat menginspirasi banyak penerus generasi. Cukuplah semua amal baiknya yang akan menjadi saksi bahwa hidupnya benar-benar memiliki arti di hati kami. Dan sekalipun kami tak akan pernah bisa mengejar semua prestasinya, karena kami yakin, hanya ada satu juara kelas di antara kami, dialah Dewi Ari Wijayanti.

Kategori Tertinggi jilid 1
Untuk kategori yang satu ini, sepertinya hanya berlaku di masa SD. Karena pada masa SD inilah pertumbuhan badan terlihat begitu jelas. Itu berlaku untuk semua anak, tapi sepertinya tidak berlaku sepenuhnya untukku. Pada awalnya, anak putra tertinggi di SD kami adalah Ahmad, nama lengkapnya Ahmad Azis Baswedan. Dia temanku yang merupakan keturunan arab. Kulitnya putih, rambutnya ikal hitam agak kecoklatan, dan badannya jangan ditanya, seperti postur tubuh orang arab lainnya, tinggi besar. Aku selalu terlihat kecil ketika berjalan beriringan dengannya. Dia juga merupakan sahabatku yang paling akrab. Karena beberapa waktu, aku sering tidur di rumahnya. Hanya untuk bermain atau mengerjakan tugas bersama. Posisi Ahmad sebagai anak putra yang paling tinggi kemudian mendapat saingan dari Iqbal. Nama lengkapnya Muhammad Iqbal. Dia tinggal tidak jauh dari sekolah. Bahkan bisa dikategorikan dekat sekali. Rumahnya terlihat jelas dari sekolah kami di lantai dua. Iqbal memiliki tinggi badan yang tidak jauh beda dengan Ahmad. Tinggi. Namun ukuran tubuhnya tidak sebesar Ahmad, Iqbal mungkin anak yang terlangsing di antara kami. Dia murid pindahan. Dan ketika dia bergabung menjadi kawan kami, dia langsung menjadi pusat perhatian, karena kehebatannya dalam olahraga apapun. Aku juga termasuk teman yang akrab dengannya. Kami berdua tergabung ke dalam tim nasyid di sekolah itu. Iqbal adalah anak yang paling perfeksionis. Dia selalu melakukan semua hal dengan usaha yang maksimal. Baik itu dalam mengerjakan tugas, berolahraga, maupun dalam penampilan. Mungkin dia lah anak putra yang paling rapi di antara kami. Persaingan antara Ahmad dan Iqbal dalam ukuran tinggi badan akhirnya dikalahkan oleh teman kami yang bernama Defra Yudha. Dia murid pindahan dari Padang Pariaman. Badannya melebihi tinggi Ahmad dan Iqbal, dan jangan tanyakan sebatas mana tinggi badanku apabila berdiri di sebelahnya. Defra adalah anak yang serius diantara kami. Tapi dia punya banyak pengalaman yang seru untuk diceritakan. Dan aku salah satu temannya yang sering menyimak cerita itu. Apabila Defra memegang puncak klasemen dalam hal tinggi badan di antara siswa putra, maka akan aku ceritakan pula kepada kalian siapa siswi putri yang memegang gelar tertinggi di antara mereka. Kini Ahmad bekerja sebagai seorang supervisor di sebuah perusahaan di bilangan Jakarta. Dengan kemampuannya bergaul, dia mudah mendapatkan banyak klien dan teman. Iqbal kini sudah menikah. Dia kini memiliki tanggung jawab lebih sebagai anak dari ibunya, dan sebagi pemimpin rumah tangga. Iqbal juga merupakan siswa putra pertama yang menikah di angkatan kami. Dia adalah orang yang tekun dan perfeksionis. Wajar saja apabila dia selalu memiliki target dalam perjalanan hidupnya. Kabar terakhir dari Defra aku dapatkan beberapa bulan yang lalu. Dia kini menetap di Padang untuk melanjutkan studinya. Semoga Allah masih mengizinkanku bertemu para ‘pencakar langit’ ini

Kategori Tertinggi jilid 2
Allah itu Maha Adil. Dia tidak menciptakan sesuatu apapun tanpa memiliki maksud tertentu di belakangnya. Namun hal itu berubah saat aku mengetahui ada temanku yang bernama Istiqomah Dwi Putri. Badannya tinggi dan besar. Sebagai pencinta film doraemon, aku melihatnya mirip seperti tokoh Giant. Hanya saja, temanku ini perempuan. Awal mula kami di kelas satu, Isti merupakan bintang kelas. Kenapa aku menyebutnya bintang kelas? Hal ini karena ketika Isti menangis ingin sesuatu, guru-guru kami akan disibukkan oleh kelakuannya. Dan bisa jadi, kami menjadi penonton setia dari balik meja tanpa mendapatkan pelajaran sekalipun. Peringkat Isti dalam tinggi badan baru bisa dikalahkan oleh kehadiran salah satu teman baru kami di kelas 4. namanya Melati Herita. Ah tak usahlah kalian membayangkan bagaimana posisiku saat mengobrol dengannya. Karena aku jarang sekali berbicara dengan Melati. Malu nya setengah mati ketika aku coba untuk mendongakkan kepala bertanya sesuatu. Kalau ada kursi, terkadang aku naik kursi, bahkan naik meja supaya terlihat lebih tinggi dan tidak perlu mendongakkan kepala. Tapi, yah kebanyakan kursi dan meja hanya menjadi saksi yang tertawa dalam diam ketika melihat aku yang mau tidak mau harus berbicara dengannya tanpa bantuan apa-apa. Mendongakkan kepala di depan cewek yang lebih tinggi itu butuh mental super. Dan sampai akhir kelulusan, Melati menjadi pemimpin puncak klasemen siswi tertinggi di angkatan pertama SDIT Al-Husnayain. Isti sekarang pasca lulus kuliahnya mengabdikan diri  sebagai pegawai di sebuah Universitas Negeri di Jakarta. Badan Isti yang dulu mengalami sedikit penyusutan karena pengabdiannya itu. Tidak jauh beda dengan Melati, dengan kelebihan tinggi badannya itu, dia kini menjadi seorang guru SMK yang mampu menjangkau pandangannya ke seluruh sudut kelas.

Kategori Terlincah
Sebagai anak kecil pada umumnya, di sekolahku juga banyak terdapat anak-anak dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Dalam hal ini aku menyebutnya lincah. Kalau dalam kategori ini, sepertinya aku juga tidak masuk ke dalam hitungan. Karena aku orangnya pemalas. Persis seperi nobita dalam doraemon. Kalau dari siswa putra, kategori yang paling lincah ini sepertinya dipegang oleh teman akrabku Sandy Jundana. Dia anak yang periang. Suka menolong, dan tidak sombong. Entah dia hafal pancasila atau tidak, yang pasti dia adalah anak yang paling aktif di antara kami. Kehebatannya dalam mengolah si kulit bundar bersaing dengan Iqbal dan Defra. Kehebatannya dalam bidang kesenian juga selalu menjadi juara di antara kami siswa putra. Semua tokoh kartun yang ada di televisi bisa digambarnya. Sandy memiliki imajinasi yang begitu tinggi. Kami selalu bercerita banyak khayalan tentang fim, animasi dan teknologi masa depan. Hafalan lagu nya banyak sekali, mulai dari Sheila On 7 sampai tim nasyid Hijjaz pun dia hafal. Mungkin karena kemampuan dia yang mudah menghafal lagu itulah, makanya dia kini berprofesi sebagai seorang DJ.
Beda halnya dengan Sandy. Kawanku yang satu ini juga termasuk ke dalam kategori siswa yang terlincah di kelas. Namanya Putri Imas Julianti. Imas biasa kami memanggilnya, adalah siswa terlincah di antara siswi putri yang ada. Orangnya baik hati, tidak sombong, dan suara itu loh, bikin merinding. Dia memiliki suara tinggi yang cukup bersih di antara teman-temanku yang lain. Maka dari itu, dia juga terpilih sebagai vokalis tim nasyid kami. Kami dulu memiliki tim nasyid yang beranggotakan cukup banyak personil. Personilnya juga merupakan kombinasi antara siswa putra dan putri. Imas sebagai vokalis 1 dan aku sebagai vokalis 2. Jadi aku juga pernah berduet dengan Imas dalam satu panggung diiringi oleh backing vokal yang merupakan kawan-kawan kami satu tim. Imas selalu lapang dada menyediakan rumahnya sebagai tempat latihan kami di luar sekolah. Padahal mungkin saja karena suara kami, banyak kaca-kaca di rumahnya yang bergeser dari tempatnya. Imas selalu menampilkan keceriaan di wajahnya. Dalam kondisi apapun itu. Dan sepertinya Allah membutuhkan keceriaannya untuk mewarnai JannahNya. Imas adalah siswa kedua yang dipanggil Allah beberapa bulan yang lalu. Benar kata orang banyak, orang baik itu biasanya hidupnya tidak lama. Karena kebaikannya di dunia sudah cukup sebagai bukti untuk Allah menempatkan di sebaik-baiknya tempat di SyurgaNya. Dan tahukah kalian, apa nama tim nasyid kami? Namanya adalah PELANGI. Dengan spektrum warna yang begitu indah, Imas telah berhasil mewarnainya. Spektrum warna yang dia hasilkan cukup membuat kita mengerti bahwa ada satu sahabat terbaik yang pernah miliki dalam hidup kita. Dan itu adalah Putri Imas Julianti

         Dari beberapa  kategori itu sebenarnya masih ada beberapa lagi teman-temanku yang belum aku ceritakan. Bukannya aku tidak bermaksud untuk menambah kategori ter- yang lain. Tapi aku rasa, empat kategori itu cukup objektif untuk aku tuliskan, daripada aku harus menambah kategori tercantik, tertampan dan lain sebagainya. Maka dari itu, untuk menceritakan beberapa kawanku yang belum lengkap, aku akan memperluas topik pembahasan nya.
            Dari total enam orang siswa putra, ada satu orang yang belum sama sekali aku sebut namanya. Dia adalah Hamzah Fuad. Namanya boleh saja sama denganku. Tapi, soal hafalan dan ilmunya, aku ketinggalan jauh di belakangnya. Dia saat ini telah hafal 30 Juz AlQuran. Sedangkan aku, hafalan sejak SD dulu sampai sekarang sepertinya tidak ada perubahan yang berarti. Hanya bertambah beberapa surat, kemudian lupa surat yang lainnya. Fuad merupakan kawanku yang paling pendiam di antara kami. Tapi jangan salah, dalam soal olahraga, maupun pelajaran yang lainnya, ia selalu melebihiku. Dia juga merupakan siswa putra yang paling muda di antara kami. Aku selalu bangga memiliki sahabat yang baik dan sholeh seperti Fuad. Karena itu bisa memotivasi diriku agar lebih baik. Mungkin Fuad adalah contoh alumni terbaik di angkatan kami yang benar-benar mencerminkan alumni SDIT. Jago dalam hafalan, hebat dalam keilmuan. Ah iya, sekilas mirip sekali dengan cerita Ahmad Fuadi sang pengarang Negeri Lima Menara. Mungkin Fuad bisa jadi penerusnya, ah tidak, bahkan bisa lebih dari itu. Aku yakin sahabatku ini adalah yang terbaik.
            Kemudian beberapa siswa putri yang cenderung pendiam juga akan aku kelompokkan menjadi satu. Mereka adalah Ayu Arni Sarah, Shifa Al Ahrami, Qonita Lutfiyah dan Bunga Tresna Asmaradita Rusdianto. Nama yang terakhir kusebutkan itu memegang rekor nama terpanjang di angkatan kami. Jadi kami biasa menyebutnya Bunga TAR. Aku kira, alasan mereka memutuskan untuk menjadi pendiam karena mereka baru bergabung dengan keluarga Al Husnayain. Jadi mereka kurang tahu sejarah seorang Isti yang bintang kelas, mereka kurang tahu sejarah Ahmad yang selalu rajin buat teman-teman jengkel. Dan masih banyak cerita lain yang mungkin hanya mereka dapatkan dari cerita pengalaman teman-teman lain. Meskipun begitu, aku selalu yakin bahwa mereka memiliki cerita indah yang terukir abadi dalam hati mereka masing-masing. Dan untuk saat ini, aku menyadari keterbatasanku. Aku juga tak ingin merusak keaslian cerita indah mereka. Maka biarlah terlukis asli dalam hati. Karena selama itu juga aku akan selalu mengingat bahwa mereka akan jadi sahabatku selamanya.
            Lepas dari siswa pendiam, mari kita menceritakan sedikit teman-temanku yang mampu mewarnai suasana kelas dengan celotehnya. Mereka ada tiga orang. Cory Karima, Dina Mukaromah Akbar, dan Reka Pratita Lestari. Cory dan Reka adalah sahabat akrab yang selalu membuat suasana kelas menjadi lebih hidup. Apalagi ketika jam kosong. Mereka berdua adalah siswi yang paling kreatif. Ada saja hal yang dibuatnya sehingga membuat teman-teman penasaran hingga berkumpul bersama mereka. Wajar saja kini Cory menjadi pengusaha. Dengan kemampuannya itu, dia bisa menarik banyak konsumen yang dia yakini menguntungkan bisnisnya. Lain lagi dengan Reka, dia kini menjadi seorang petualang, pencinta alam, fotografer handal. Ah dua kombinasi bakat alami yang akan sulit kalian temukan dimanapun. Berbeda lagi halnya dengan Dina. Dina hanya akan membuat suasana seru ketika dia ikut dilibatkan di dalamnya. Dina kurang begitu berminat menjadi pelopor suasana. Tapi jangan salah, ketika kita mengikut sertakan Dina dalam sebuah kerja kelompok atau curhat, maka dia akan menjadi bumbu penyedap dengan banyolan asli yang langsung membuat tawa kita meledak di mulut. Semua joke yang dia sampaikan memang hasil kreasi buah pikirannya. Wajar saja banyak kawan-kawan Dina yang berasal dari luar negeri. Hal ini karena kemampuan seorang Dina yang mampu membuat obrolan dengan lawan bicaranya terasa segar tanpa ada hal yang dibuat-buat.
            Dan yang terakhir ini adalah teman-temanku yang merupakan anak dari kawan-kawan pengajian orangtuaku. Beberapa dari mereka adalah buah karya dakwah. Didikan alami dari pasangan orangtua tarbiyah. Mereka adalah Annisa Rahma, Asma Az Zahra, Khaula Fathina, Shofi Hanifah, dan Ummul Husna Aulia. Sebenarnya Hamzah Fuad juga termasuk ke dalam kategori ini. Tapi berhubung dia sudah aku ceritakan di kolomnya sendiri, maka akan aku ceritakan kelima temanku yang lainnya. SDIT Al Husnayain ini merupakan sekolah islami yang didirikan oleh beberapa pengurus yayasan yang memang telah bergerak dalam dakwah yang biasa dikenal dengan nama tarbiyah. Pemilik yayasan itu adalah orang tua dari Khaula, dalam operasionalnya dibantu dengan orang tua Zahra, orang tua Husna, orang tua Nisa, dan orang tua Shofi. Maka jadilah kami ini anak-anaknya harus menjadi contoh yang mengisi sekolah itu sebagai angkatan pertama. Banyak jadwal pelajaran yang belum lazim kami dapatkan seperti di SD lainnya, seperti Tahfidz, Tilawah, Hadist, Akidah Akhlaq dan lain sebagainya.
Sebagai anak dari pemilik yayasan, Khaula tak terlihat berbeda dengan anak-anak lainnya. Bahkan dia merupakan siswa yang mudah bergaul dengan siapapun. Termasuk denganku. Dan aku termasuk orang yang pernah menjadi secret admire nya. Masa kecil itu sungguh lucu dan selalu membuatku tertawa. Karena sejak itu aku selalu salah tingkah dan malu apabila berbicara dengannya di depan orang banyak. Maka telepon yang jadi sarana komunikasi untuk beberapa waktu. Lain lagi dengan Nisa. Dia temanku yang baik, tapi terlalu lugu. Tidak jarang Nisa menjadi bahan kejahilan Isti dkk. Meskipun sering dijahili, Nisa tak pernah memiliki dendam apapun, mungkin ini berkat hasil didikan orangtuanya di rumah, entah aku juga kurang paham. Beda lagi dengan Shofi. Shofi adalah anak yang seru ketika kecil. Dia dan Ahmad sering melempar ejekan satu sama lain. Belum lagi gaya bicara seorang shofi yang begitu cepat. Nisa, Khaula, dan Shofi kini telah menikah dan mempunyai cerita tersendiri dalam membina keluarga kecilnya. Tanpa bermaksud apapun, aku hanya mengulas kembali cerita masa kecil yang pernah aku lalui. Semoga mereka berkenan dan memaafkan kesalahan penyampaian yang kurang berkenan.
Kemudian Zahra adalah salah satu temanku yang biasa bermain di sekolah sampai sore. Rumahnya tidak jauh dari sekolah, maka dari itu terkadang aku juga suka bermain bersama adiknya Zubair dan Yahya. Oh iya Zahra juga merupakan saudara sepupu dari Sandy. Makanya mereka terlihat akrab satu sama lain.
Husna merupakan temanku yang periang, temanku yang satu ini adalah sahabat akrab dari Khaula. Ada saja yang mereka bahas. Dan aku tak pernah tahu soal apa itu. Zahra dan Husna melanjutkan studi mereka di bidang akuntansi, dan kini Zahra bertugas sebagai seorang officer di sebuah Bank milik pemerintah daerah. Dan Husna  kini bertugas keliling Indonesia sebagai auditor.
Dari kelima temanku tadi, mereka memiliki hafalan AlQuran yang luar biasa banyak. Yah sesuai dengan bimbingan dan kasih sayang orang tua mereka. Dipimpin oleh Fuad yang seorang Hafidz. Ah semoga Allah juga mengizinkan kita reuni kelak di SyurgaNya.
            Teman-temanku memiliki masa depan yang begitu cemerlang. Semua terlihat membahagiakan dengan cerita dan impiannya yang mulai terwujud satu persatu. Mungkin beberapa waktu yang akan datang setelah tulisan ini diposting, akan muncul orang-orang besar dari nama yang aku sebutkan di atas. Aku hanya merasa perlu menuliskan cerita masa kecilku. Karena aku merasa masa kecil itu benar-benar istimewa. Membahagiakan setiap mengingatnya, memotivasi setiap merenunginya.
            Karena masa kecil yang luar biasa itulah aku bisa bertemu teman-temanku, menemukan indahnya persahabatan. Persahabatan masa kecil itu memang begitu indah. Terlalu jujur untuk dijalani. Tak ada yang namanya berkhianat karena kepentingan, materi, atau kekuasaan. Kami masih terlalu kecil untuk mengerti tentang semua itu. Semua tawa terasa lepas, semua canda terasa ikhlas.
Dan di masa itu juga aku mengenal perpisahan. Perpisahan dengan beberapa teman yang pindah sekolah, perpisahan dengan teman yang lulus, perpisahan dengan dengan semua guru-guru yang tak pernah lelah mengajarkan kami arti kehidupan. Dan perpisahan selamanya dengan dua orang sahabat terbaik yang pernah kami miliki. Maka tangis masa kecil itulah yang selalu kami jadikan pengingat bahwa hidup ini fana. Tangis perpisahan itulah yang selalu kami jadikan pedoman bahwa tak ada yang abadi. Dan tangis haru itu yang mengajarkan bahwa hidup berjalan bukan seperti apa yang kita inginkan.
Kalaupun ada cinta yang bersemai, maka itu sebatas persahabatan. Persahabatan didasarkan cinta, hasilnya akan jauh lebih indah bukan? Maka di masa kecil kita, tanpa kita sadari kita selalu menebar cinta, kita selalu menanam benihnya. Dan sadarkah kalian bahwa benih itu kini tumbuh, berkembang, meninggi, kemudian bersemai dengan indah dalam sebuah bentuk yang kita sebut UKHUWAH. Maka inilah yang akan kita jaga dimanapun kalian berada. Bagaimanapun masa kecil yang kita jalani, sadarilah ketika persahabatan itu berlandaskan cinta dalam kedekatan kita kepada Rabbnya, maka di situ pula benih ukhuwah mulai tersebar.
Pada akhirnya, semoga kita bisa menjaga jalinan Ukhuwah ini dengan indah. Semoga kita bisa menjaga ikatan persahabatan ini dengan manis. Lebih manis dari madu, lebih indah dari berlian. Karena bukan hanya dunia yang akan kita jadikan tempat reuni, tapi Syurga Allah yang Maha Indah. Jannah Allah yang Maha Mulia. Sebaik-baiknya tempat kembali. Dua sahabat kita sudah tidak sabar menunggu kehadiran kita untuk kembali bereuni bersama. Bercerita bersama. Bahwa kita masih memegang janji-janji itu. Bahwa kita masih memegang mimpi-mimpi itu. Mimpi yang akan selalu memotivasi diri kita untuk menjadi lebih baik dengan Husnayain. Dua Kebaikan, di dunia dan di akhirat. Reuni di Syurga.

Goresan kecil menyambut Bulan Ramadhan 1435 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Menjelang Maghrib di Palembang,

27 Juni 2014

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Nice posting,bro...
Allah selalu bersamamu,dhan...
dan akan selalu menaungi setiap langkah kebaikan kita...
semoga kita kelak berkumpul di Surga-Nya..aammiinn...

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum...
dari sebuah keisengan cari nama sendiri malem2, akhirnya nemuin blog ini. :p
saya salah satu "penghuni" di post ini. senang rasanya bisa menjadi bagian dari keluarga besar ini.
keren bgt bisa hapal semua namanya. bahkan menceritakannya satu2. makasih lho udah membangkitkan kembali kenangan jaman sd dulu. :D
berkat postingan ini, akhirnya jadi tau kabar temen2 sd dulu. alhamdulillah. :)
maaf ya berantakan komennya. soalnya saya termasuk "silent reader" di beberapa tempat dan sekarang sedang terlalu senang mendengar kabar terkini dari temen2 lama. :)
sukses ya hamzah. sekali lagi terima kasih. :)
oia, satu lagi, ternyata setelah liat akte lahir, nama saya tidak sepanjang itu. hahaha...

Anonim mengatakan...

Bah.. keren mak.. merinding saya bacanya.. berasa hidup ceritanya.. kalau bisa posting fotonya :D...

Beli makan siang di warteg bareng di ungkit juga kalau bisa..
Trus beli nya pake sepeda yang ngak tau itu sepeda siapa.. Wkwkwkkw
Pokoknya ada yang keren di pake.. :D


Salam rindu untuk semuanya :)

Berpisah bukan berarti bercerai.. sambung terus silaturrahmi..

Padang, 9 oktober 2014