Bercerita tentang kesederhanaan hidup

Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Februari 2016

Cinta itu Katalis Perasaan

19.11 Posted by hamzah ramadhan , 3 comments

Dua orang yang saling mencintai itu bertemu untuk sekali lagi. Dalam sebuah gedung kantoran di bilangan Jakarta. Milea, nama gadis itu, bertemu muka tidak sengaja dengan bekas kekasih hatinya, Dilan. Mereka bertemu dalam suasana yang berbeda. Pada tempat berbeda. Dan tidak menyandang status yang mereka banggakan dulu ketika SMA. Sepasang kekasih. Tatapan mata mereka masih menyiratkan rasa ketertarikan dan kekaguman satu sama lain. Mereka terdiam sejenak, beradu pandang. Hingga akhirnya suami dari Milea datang, dan memutuskan beberapa detik waktu yang digunakan oleh mereka berdua mengingat masa romantis ketika SMA.
Adegan dalam novel yang berjudul Dilan ini bercerita soal cinta itu merupakan potret  gambaran cinta konvensional yang kini terjadi di masyarakat. Kisah kasih yang terjadi di masa SMA. Pergaulan yang terlihat lumrah, dipopulerkan secara terang-terangan. Digambarkan begitu menarik. Padahal banyak jerat setan yang menanti di sana. Banyak kekecewaan dalam pelaksanaannya. Karena pada akhirnya cinta yang dilukiskan begitu panjang  dan mendayu oleh Pidi Baiq, penulisnya, hanya menyisakan kata perpisahan karena berbenturan dengan realita yang tak bisa disatukan meski atas nama cinta. Entah siapa yang dirugikan di sana. Terbawa perasaan. Patah hati. Menurutmu itu bisa sembuh sehari? Dua hari? Belum dosa hati, dosa mata, dan yang lainnya. Oke ini hanya fiksi. Di dunia realita, bukannya ada juga seperti ini?
Cinta yang hanya menggebu di awal, tanpa alasan yang jelas akan berakhir tanpa kejelasan pula. Jadi tak usah lah kamu percaya dengan ucapan gombal yang menjelaskan bahwa cinta itu tanpa alasan. Itu semua trik pasaran yang sudah banyak dipakai oleh para pemuja cinta semu belaka. Semanis apapun alasannya sebaik apapun caranya menjelaskan soal cinta, kalau bukan Allah yang menjadi sandaran, maka cinta itu hanya sebuah cerita semu penghias dosa.
* * *
Lain Pidi Baiq, lain pula Kang Abik. Novelis yang mempunyai nama asli Habiburrahman El Shirazy ini juga merupakan seorang penulis novel yang menjadikan cinta sebagai bumbu utama. Mulai dari Ayat-ayat Cinta, Cinta Suci Zahrana, Ketika Cinta bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, Bumi Cinta dan sederet karyanya lain pun sarat akan kisah cinta. Cinta memang menjadi sebuah produk jualan yang begitu laris di pasaran. Dan para penulis cerdas tahu bagaimana memanfaatkan itu.
Kang Abik dengan kisah cinta nya memiliki nilai-nilai yang jauh lebih luhur daripada apa yang sudah dibawakan oleh novelis lain semisal Pidi Baiq. Sama-sama bergenre cinta, namun dalam bingkai yang berbeda. Novel karya kang Abik sarat nilai rabbani. Berpegang teguh dengan prinsip islami, tanpa melanggar norma-norma yang terkesan menjual diri demi sebuah kata sifat yang kita sebut cinta.
Karena memang seperti itulah cinta, ia hanyalah sebuah kata sifat yang setara dengan kata sifat yang lain. Setara dengan sabar, jujur, baik, jahat, dan sebagainya. Bukan hanya kata sifat yang baik saja. Karena memang cinta itu tidak selamanya berada dalam lingkaran kebaikan. Terkadang kamu bisa menemukan bahwa cinta itu menguatkan, tapi di sisi lain kamu bisa mendapatkan bahwa cinta bisa menjerumuskan.
Salah satu efek dari cinta yang menguatkan bisa kamu baca di novel Ayat-ayat cinta karya kang Abik yang kedua. Kamu bisa merasakan bagaimana cinta itu bisa meneguhkan keimanan seorang Aisyah yang rela merusak paras cantiknya untuk menghindari tindakan pelecehan yang akan dilakukan oleh tentara Israel ketika di penjara. Dinding penjara menjadi media untuk menyayat pipi, hidung, kening, dan seluruh bagian wajah Aisyah. Darah mengucur di setiap sudut wajah. Perih rasanya. Namun tidak sebanding dengan perihnya siksaan neraka Allah jika ia tunduk pasrah menyerahkan dirinya kepada para budak syahwat dunia. Diikhlaskan pemberian Allah berupa wajah yang begitu dicintai suaminya untuk menjaga kesucian diri dari nafsu bejat musuh Allah terlaknat. Biarlah raga itu rusak di dunia, toh Aisyah selalu percaya bahwa usahanya menjaga kesucian diri akan mendapatkan surga dari Allah subhanahu wa ta’ala.  Cinta itu membuatmu kuat. Kuat iman, berimplikasi pada keikhlasan untuk mengorbankan semua yang kamu miliki, hingga bertambah kecintaanmu kepada yang memberikan cinta. Dialah Allah sang Pemilik Cinta.
* * *
Sepertinya sudah cukup kita membahas soal cinta di dunia fiksi. Kisah cinta di dunia ini cukup banyak juga yang melegenda. Dan itu semua selalu memiliki dua sisi antara kebaikan dan keburukan. Kamu tahu, bangunan Taj Mahal yang menjadi ikon negara India dan menjadi salah satu keajaiban dunia. Itu juga merupakan hasil dari cerita cinta. Tak usah jauh-jauh, di negara kita, Indonesia, candi Prambanan juga merupakan salah satu bangunan yang memiliki cerita legenda seputar cinta. Juga di tangkuban perahu, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Cinta itu katalis perasaan. Ia mampu mempercepat reaksi antara perasaan satu dengan yang lain. Ia mampu menghadirkan sedih, bahagia, kesal dan rindu melebur padu. Katalis perasaan pasti butuh energi. Energi sebuah cinta hanya bisa didapatkan dari kumpulan kebaikan-kebaikan yang bersinergi. Jadi jangan heran ketika cinta mulai memainkan perannya sebagai katalis, energi-energi positif mulai bergerak memainkan perannya masing-masing.
Misalnya saja seperti ini. Untuk mencintai sesuatu, maka kamu harus jujur pada diri sendiri, maka cinta sudah menyebabkan seseorang menjadi jujur. Lalu untuk mencapai sebuah kebahagiaan, cinta tidak cukup hanya dengan jujur. Karena cinta akan mengambil seluruh waktumu. Menyita semua pikiranmu, menyedot habis semua hartamu. Dan semua itu harus ikhlas kamu korbankan. Tidak berhenti sampai di situ kawan, ketika kamu sudah memutuskan untuk mencintai, telah jujur pada diri sendiri, ikhlas mengorbankan apa yang dimiliki, cinta terkadang berjalan tidak sesuai dengan kehendak hati dan keinginan, dan untuk menjaga cinta itu tetap utuh diperlukan kesabaran. Masih banyak lagi energi-energi positif  yang akan tersebar untuk mereaksikan sebuah perasaan berkaitan dengan cinta. Jadi coba saja diperiksa, jika kawanmu sudah terlalu banyak terbawa perasaan, bisa jadi katalis yang kita kenal dengan sebutan cinta sedang bekerja dalam dirinya.
Cinta itu sering bermula dari mata. Karena mata merupakan media yang Allah ciptakan untuk merasakan keindahan secara visual. Keindahan secara visual bisa lebih mudah tergambar, karena sifatnya nampak dan nyata. Seindah memandang ciptaan Allah yang luar biasa. Karena Allah tak mampu untuk kita lihat dengan mata di dunia, maka untuk menghadirkan cinta kepada Nya bisa dengan melihat segala ciptaan Nya. Karenanya Allah sudah berfirman “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14).
Mata juga bisa menipu, mata inilah yang kemudian menjerumuskan Abdah bin ‘Abdurrahiim dari seorang prajurit yang hafal Quran yang kemudian merelakan keimanannya karena tergiur kecantikan wanita ketika masa penaklukan benteng Romawi sekitar tahun 270 H.  
Lalu cinta juga bisa bermula dari telinga. Telinga bisa merasakan keindahan secara audio. Secara pendengaran. Seorang musisi bisa dicintai para penggemarnya tanpa perlu bertatap muka. Suara yang indah bisa menenteramkan hati. Dan hati yang tenteram  bisa menghadirkan cinta. Suara tadarus Alquran yang diperdengarkan seorang manusia bisa juga menjadi penyebab cinta.
Dan lagi-lagi pendengaran ini juga terkadang bisa menipu. Kita sebagai manusia harus bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah. Karena setan selalu membisikkan kejahatan langsung ke sanubari manusia.
Baik media visual maupun media pendengaran, adalah salah satu media terbaik yang bisa menghadirkan rasa cinta. Namun ternyata ada sebuah cinta yang tidak melalui dua media tersebut. Dan cinta itu memiliki efek luar biasa terhadap objek yang dicintainya. Pengaruhnya luas, meliputi semesta alam. Hebatnya lagi, cinta ini terjalin begitu saja tanpa pernah bertemu rupa, cinta ini mengalir saja, tanpa pernah mendengar suara. Terlalu kuat jalinannya. Terlalu deras alirannya. Membanjiri semesta dengan cinta, menyebarkan kebaikan-kebaikan yang selalu menghadirkan cinta yang bertambah di manapun dan kapan pun. Dia lah pencinta sejati dari kalangan manusia. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Yang mengorbankan seluruh waktu, harta, jiwa dan raganya untuk kita yang belum pernah ditemuinya. Yang beruban rambutnya memikirkan nasib kita setelah sepeninggalnya. Yang merelakan waktu tidur di sepertiga malamnya demi mendoakan kita agar selalu istiqomah berada di jalan yang sama dengannya.
Adakah cinta yang lebih mulia dari itu? Bahkan kita yang mengaku mengerti soal cinta belum berani mengorbankan segalanya untuk yang kita cinta tapi belum pernah bertemu muka maupun suara. Karena cinta adalah soal keikhlasan, maka Rasul ikhlas mencintai kita sebagai umatnya. Rasul ikhlas mengajarkan kita sebagai pengikutnya. Dan kita pun belajar bahwa cinta itu tak selalu bertemu raga. Cinta tak selalu bertegur sapa. Cukuplah kita yakin dan sandarkan cinta ini kepada sang Maha Cinta, maka ia akan bekerja sebagai katalis dalam memperbarui perasaan bahagia, bersimpul indah dalam lingkaran-lingkaran kebaikan yang bersatu padu. Suci nan penuh berkah. Karena cinta bukan hanya soal walimah. Tapi ia rahmat yang cakupannya tak berbatas wilayah.
Pada akhirnya izinkan saya mengutip puisi karya Sapardi Djoko Darmono yang berjudul Sajak-Sajak Kecil Tentang Cinta

mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat

mencintai cakrawala
harus menebas jarak

mencintai-Mu

harus menjelma aku

Senin, 15 Juni 2015

Ngobrol Soal Cinta

02.02 Posted by hamzah ramadhan , No comments
Laki-laki berusia sepuh itu sedang makan saat aku beserta teman-teman bercengkrama ditemani sepiring mie tek-tek di meja kecil, tempat duduk kecil, dibawah kemilau lampu jalan dan hiasan yang tergantung di pepohonan yang menambah semarak malam itu. Malam itu di depan sebuah benteng yang menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia, aku melihat penggalan ekspresi cinta yang tak lebih romantis dari sekedar alur romantika drama layar kaca. Tempat yang aku gambarkan tadi jauh dari kata romantis. Terlalu banyak manusia lalu lalang. Melintas tak jelas mencari hiburan atau sekedar luapan kebosanan dan rasa suntuk di rumah atas rutinitas harian.

Aku bersama ketiga temanku masih larut dalam obrolan seputar kuliah, ujian, dan semua aktivitas rutin yang kami kerjakan dalam hari itu. Kami sibuk bergantian menceritakan semua isi kepala sembari melahap suapan demi suapan mie yang mungkin bisa mengganjal sedikit kondisi perut yang lapar pasca ujian semesteran. Mataku tak bisa lepas dari sosok lelaki tua yang sedang makan pula. Hanya saja ia berada di tempat yang berbeda dari kami berempat. Ia makan nasi goreng, dengan lauk telur rebus, ditambah beberapa irisan daging ayam dan bawang goreng di atasnya.

Aku belum menceritakan sampai kepada bagian yang romantis, jadi harap bersabar. Obrolan kami berempat masih berlanjut, mie yang ada di piringku lenyap tak bersisa. Dari awal aku sibuk menyuap mie karena tak kebagian giliran untuk bercerita. Jadilah mie di piringku menjadi korban mulutku yang sudah tidak sabar ingin bersuara, namun usahanya gagal karena ia harus bekerja sama dengan lidah dan gigi untuk mengunyah mie yang tak pernah berhenti aku suap agar aku tak bersuara saat ketiga temanku bergantian bercerita. Saat itu juga mataku sudah tak fokus menatap mereka satu persatu, hingga aku menemukan penggalan kejadian romantis yang aku ceritakan di awal tadi.

Aku berpisah sejenak untuk membeli minuman untukku dan ketiga teman yang sepertinya mulai melupakan kehadiranku di sana karena asyiknya bercerita. Aku beranjak dari kursi dan mendekat kepada lelaki berusia sepuh yang saat ini sudah selesai makan dengan sisa setengah nasi goreng di piring, telur yang hanya dimakan sedikit, ditambah beberapa irisan daging dan bawang goreng yang belum disentuhnya. Setelah itu, ia memberikan sisa nasi goreng kepada istrinya yang daritadi sibuk melayani pembeli saat lelaki berusia sepuh tadi sedang makan. Mereka adalah pasangan suami-istri penjual minuman berkemasan yang terletak di sebelah penjual mie tek-tek lokasi kami makan.

Aku sedang berada di hadapan mereka kala itu. Berpura-pura memilih air mineral yang ada dalam box pendingin padahal mataku awas memperhatikan kejadian romantis yang membuat hatiku bergetar untuk beberapa saat. Kedua penjual itu berbagi sepiring nasi goreng untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka malam itu. Tanpa ada adegan cium tangan, pipi, jidat, atau anggota tubuh lainnya yang tak lazim untuk dilakukan di depan banyak orang. Tanpa adanya sebuah pelukan mesra dari istri atau suaminya sebagai bentuk rasa terimakasih yang mereka ungkapkan. Hanya sebuah kalimat singkat dan segelas air minum yang disodorkan oleh sang suami kepada istrinya untuk segera menghabiskan sisa nasi goreng di piring. Soal melayani pelanggan, biar lelaki itu yang menangani.

Aku belajar banyak soal cinta dari kedua pasangan penjual minuman di malam itu. Dan mari kita ngobrol sejenak soal cinta itu agar tulisan ini tidak menjadi hambar karena rasa penasaran kalian dengan kondisi mie di piring ketiga temanku tadi. Sederhana, itulah sebuah kata yang bisa aku gambarkan dari sebuah adegan tanpa skenario yang diperlihatkan oleh penjual minuman di malam itu. 

Perhatian yang diberikan oleh kedua pasangan itu adalah bentuk cinta. Saat suami sedang makan, istri cekatan berjaga barang dagangan mereka. Begitupun sebaliknya. Dan segelas air minum dan sisa nasi goreng yang masih utuh di beberapa bagian adalah bentuk cinta yang tak akan bisa kamu temukan dan kamu pelajari di bangku kuliah atau sekolahan. Itu adalah buah didikan alam yang mengajarkan bahwa cinta adalah sebuah bentuk perhatian, kepedulian, rela berkorban, dan banyak hal lain yang aku pun masih belum mengerti benar hakikatnya seperti apa.

Dari kejadian itu aku belajar, tak usahlah sibuk memikirkan orang yang tak pernah memikirkanmu. Waktu yang kita habiskan untuk itu hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan yang tak akan pernah bisa kita kembalikan. Cinta itu sederhana, ketika kamu ada dipikiran orang yang mencintaimu, maka ia akan memberikan segala perhatiannya untuk kebaikanmu. Sudahkah kita belajar tentang besarnya cinta seorang ibu kepada anaknya? Tapi itu belum seberapa dibandingkan dengan cinta yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Jadi sudah kita memutuskan siapa yang layak kita cintai dan kita berikan perhatian?

Sabtu, 08 November 2014

Menikmati Pernikahan Dari Secangkir Kopi

08.44 Posted by hamzah ramadhan , 2 comments

      Menikah adalah sunnah Rasulullah. Penyatuan dua hati manusia, penyatuan dua keluarga, penyatuan dua cita-cita. Sebenarnya saya belum pantas menulis soal ini. Karena saya belum menjalani merasakan bagaimana rasanya menikah. Saya hanya sekedar ingin berbagi opini. Opini yang saya rangkum dari beberapa pengalaman dan ada juga saya ambil dari beberapa cerita. Darimana pun sumbernya, semoga tulisan ini bisa menginspirasi para pembaca baik yang sudah ataupun belum menikah.
     Menikah itu urusan cinta. Kata siapa? Itu mah dulu. Prinsip menikah itu urusan cinta tidak berlaku lagi di zaman smartphone era layar sentuh saat ini. Standar Nikah Indonesia mendadak naik pasca pernikahan Raffi Ahmad. Semua jomblo dibuat panik akibat kenaikan ini. Belum lagi ditambah masalah belum ada calon yang bersedia diajak nikah. Cinta itu bisa saja jadi alasan dalam semua pernikahan. Tapi cinta tidak menyebabkan pernikahan menjadi sah. Banyak faktor yang mesti dipenuhi. 
     Buat saya yang belum merasakan bagaimana rasanya menikah itu, pasti tak bisa menjelaskan lebih lanjut alasannya. Saya ingin berkata lebih banyak, tapi rasanya hambar apabila kalian membaca artikel soal pernikahan dari seorang bujangan. Kasusnya sama seperti membaca artikel tentang penyakit kulit dari seorang arsitek. Tidak sesuai dengan kapasita keilmuan dan pengalaman. Maka akan saya bahas sisi lain tentang pernikahan itu.
     Menikah itu terlihat sederhana. Ketika saya membaca buku rukun nikah, syarat sah nya sebuah pernikahan itu ada ijab kabul, ada mempelai pria dan wanita, ada saksi, ada mahar, dan ada wali dari mempelai perempuan. Setelah syarat-syarat itu terpenuhi, maka kedua manusia seharusnya bisa dikatakan sah sebagai pasangan suami-istri. Tapi nyatanya praktek di lapangan tidak seperti itu. Ada peraturan lain yang harus dipenuhi untuk mencapai syarat sahnya sebuah pernikahan. Entah itu peraturan pemerintah yang tertulis maupun peraturan adat yang berdasarkan kesepakatan. Setiap saya ingin mengetahui apa saja yang harus disiapkan dalam pernikahan, jawaban yang saya dapatkan lebih banyak daripada syarat-syarat pernikahan itu sendiri.
       Karena penghulu tak bisa dibayar dengan cinta, undangan juga tidak bisa di cetak hanya dengan modal setia, dan tamu undangan tak mungkin hanya berdiri tanpa jamuan di resepsi di lapangan terbuka yang tanpa tenda. Hanya cinta, setia, dan niat komitmen untuk selalu bersama tidak bisa langsung menyatukan dua manusia. Tidak bisa juga sekaligus mengakrabkan dua keluarga. Beda ceritanya apabila kedua calon mempelai adalah anak orang kaya. Maka persoalan ini selesai sudah. Kemudian cerita cinta itu menjadi indah dan mereka bisa menikah. Tapi di mana kita bisa menemukan kedua orang yang beruntung itu? Di FTV bisa jadi, di novel juga ada. Tapi tidak setiap saat kita bisa menemukan pasangan yang beruntung seperti itu.
    Izinkan saya untuk kemudian menyampaikan rasa kekaguman saya kepada para istri yang telah menjadi pasangan untuk suaminya sampai dengan detik ini. Kenapa juga saya harus kagum dengan istri orang? Tolong jangan salah fokus ya. Saya hanya kagum kepada para istri yang memutuskan untuk menikah dengan pilihannya sekarang. Bukankah mereka tidak bisa meramal masa depan? Kenapa pula para istri itu yakin bahwa laki-laki yang kini menjadi pasangannya mampu memberikan masa depan yang terbaik di dunia dan di akhirat?  Dan bagaimana pula mereka bisa meyakinkan pilihan mereka kepada kedua orangtuanya seolah ia lebih kenal laki-laki itu melebihi siapapun. Mereka tak kenal lelah membujuk orangtuanya, agar berkenan menerima pria beruntung itu menjadi imam bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Sebenarnya kekuatan apa yang mendasari dua manusia untuk melaksanakan pernikahan ini. Pasti ini lebih dari sebatas cinta. Pasti ini lebih dari sebatas setia. Karena dengan menikah mereka rela berpisah dari orangtua. Hidup mandiri. Merancang kehidupan dari awal. Dan hebatnya mereka bahagia melaksanakan semua aktivitas itu bersama. Sekali lagi keterbatasan akal dan pengetahuan membatasi saya untuk menulis lebih panjang lagi soal ini.
          Kemudian menikah mampu menghadirkan senyum dan tawa lebih lebar dari biasanya, tabungan yang biasanya kosong, setelah menikah biasanya terisi dengan sendirinya. Belum lagi bagi yang memiliki bisnis, usahanya semakin rajin dan giat sehingga semakin banyak keuntungan yang di dapat. Itu hanya soal materi. Soal ibadah, orang yang sudah menikah itu ternyata lebih diutamakan untuk menjadi imam dibandingkan dengan orang yang masih bujangan, itu apabila di antara mereka memiliki hafalan alquran sama banyaknya. Karena itulah menikah juga disebut sebagai menggenapkan separuh agama. Kalau soal jiwa ataupun perasaan, menikah mampu memberikan ketenangan kepada pasangan suami istri. Mereka bisa saling berbagi. Entah itu masalah, hadiah, atau apapun itu. Dan menikah juga menyebabkan makin berkurangnya jumlah manusia dengan spesies galau yang biasa curhat di media sosial karena bingung mau menceritakan masalah atau kebahagiaanya kepada siapa.
     Bagi saya secara pribadi, menikah itu ajaib. Karena kebanyakan dari pasangan yang telah menikah memiliki masalah yang lebih rumit dibanding dengan ketika dia masih status belum menikah. Mereka akan disibukkan dengan uang belanja bulanan, tagihan rumah, listrik, air, belum lagi kalau mereka sudah punya anak. Wah itu masalah yang cukup rumit kalau dilihat dari kacamata seorang bujangan. Dan yang membuatnya ajaib adalah, dengan masalah yang lebih rumit itu, mereka justru lebih bahagia ketika mampu melewati semua prosesnya bersama.
       Maka pagi ini, saya sepertinya sedikit mulai termotivasi. Termotivasi untuk memulai menjadi secangkir kopi hangat. Kenapa arah perbincangan kita justru ke kopi? Kita semua mengetahui kalau kopi itu pahit. Gelap warnanya. Buat orang yang tidak suka kopi, pasti heran kenapa kopi luwak itu mahal harganya. Dalam proses pembuatannya, kopi haruslah diseduh dengan air panas. Semakin panas airnya, maka akan semakin larut bubuk kopi nya. Akan semakin harum pula aroma kopi nya. Anggaplah air panas itu masalah, dan kopi adalah pasangan yang baru menikah. Di mata bujangan yang belum punya pasangan alias jomblo,  pernikahan itu pahit, lebih banyak susahnya, lebih banyak masalahnya. Karena mereka hanya melihat pernikahan itu hanyalah berbentuk kopi bubuk yang pahit. Siapa pula yang suka memakan kopi bubuk pahit langsung. Hanya air panas lah yang mampu menjadikan kopi itu enak diminum. Bukan dengan air dingin. Bubuk kopi tidak akan larut dengan air dingin. Menikah hanya akan terasa nikmat bagi pelakunya. Dan akan terasa menyedihkan buat para jomblowan dan jomblowati yang mendengar ceritanya. 
      Oh iya satu lagi yang ingin saya sampaikan. Tadi kita ilustrasikan bahwa air panas sebagai masalah, dan kopi sebagai pernikahannya. Kurang lengkap kalau kita tidak menambahkan cangkir sebagai wadahnya. Kita ilustrasikan cangkir sebagai komitmen dalam pernikahan. Semakin kuat komitmen maka semakin kuat juga cangkirnya. Cangkir yang kuat mampu menampung air panas sepanas apapun. Mampu melarutkan kopi sekental apapun. Maka kunci pernikahan itu sebenarnya ada di komitmen ini. Sebaik apapun kopi nya, sepanas apapun air panasnya, mau ditambah susu, krimer atau pemanis lain, akan sia-sia bila cangkir retak, rapuh, dan mudah sekali pecah. Kopi akan tumpah dan terbuang percuma.
      Filosofi lain dari kopi itu adalah, kopi terasa nikmat bila kita nikmati bersama. Apalagi di warung kopi yang memiliki topik perbincangan yang seolah tak pernah berhenti. Tapi pagi ini izinkan saya menikmati indahnya pernikahan itu melalui secangkir kopi hangat yang diseduh sendiri, disajikan sendiri, dan diminum sendiri. Untung saja kopi nya tidak harus memetik sendiri. 


Barakallah buat sahabat-sahabatku yang hari ini melaksanakan Akad Nikah dan Walimatul 'Ursy
Buat sahabat-sahabatku yang sudah menggenapkan separuh agamanya, semoga bahagia di dunia hingga di Syurga. 
Buat yang masih hanya sebatas niat untuk menikah, saran saya bersabarlah. Kita senasib.. 

Palembang, 8 November 2014