Bercerita tentang kesederhanaan hidup

Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Januari 2017

Informasi

09.41 Posted by hamzah ramadhan , No comments
Alhamdulillah akhirnya blog ini ada isinya juga. Sudah beberapa bulan blog ini sepi postingan. Harap maklum saja. Yang punya blog ini orang yang bisa dibilang malas. Tugas kuliah kebiasaan dibiarkan menumpuk hingga deadline terakhir. Alasannya biar inspirasi masuk di saat paling terdesak. Untung saja tempat kerja masih memberikan kesempatan orang seperti saya untuk diberdayakan waktu dan tenaganya. Itu semua kita kembalikan kepada si takdir yang sudah diatur yang punya skenario hidup kamu, saya, dan kita semua.
Kalau ada yang bilang saya ini penulis, coba ajak dia untuk jalan-jalan ke toko buku di kota mana pun anda berada. Anda tidak akan pernah sekalipun menemukan buku yang menuliskan nama saya sebagai penulisnya. Jadi jangan sebut saya penulis. Sebut saja saya curhater online. Saya adalah pemerhati sosial. Dan selalu memiliki kegelisahan yang timbul apabila ada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kepribadian yang saya pelajari. Maka blog inilah sebagai wadah yang paling pas untuk mencurahkan isi kegelisahan itu agar para pembacanya mengerti bagaimana kegelisahan yang saya rasakan. Siapa tahu ada yang mengalami kegelisahan yang sama. Dan butuh kawan curhat dan berbagi. Hehe bukan promosi ya.
Beberapa bulan kemarin, saya disibukkan dengan banyaknya tugas proyek pembuatan aplikasi sederhana yang berkaitan dengan sistem informasi. Banyaknya proyek yang dikerjakan, membuat saya mau tidak mau harus mencari beberapa informasi dan referensi yang berkaitan dengan jurusan yang sedang saya ambil di tempat kuliah. Sekedar info, saya masih tercatat sebagai mahasiswa strata satu jurusan Sistem Informasi di sebuah kampus dengan sertifikasi TUV Nord di kota pempek. Tolong jangan tanyakan berapa umur saya sekarang.
Ada hal yang menarik di jurusan yang saya ambil sekarang. Setelah sekian lama kuliah, saya akhirnya mengetahui betapa jurusan ini begitu penting dan dibutuhkan bagi saya yang selama ini selalu gelisah terhadap informasi yang begitu liar di sosial media.
Jurusan sistem informasi ini adalah jurusan yang merekayasa sebuah informasi yang perlu untuk ditampilkan dan digunakan untuk kepentingan bersama. Tolong ya kutipan pengertian sistem informasi tadi jangan dijadikan salah satu rujukan bagi tugas ataupun makalah yang anda tulis. Menurut saya pribadi, sebuah informasi itu membutuhkan pengolahan terlebih dahulu. Karena tidak semua informasi yang didapatkan layak untuk dibagikan dan disebarluaskan kepada semua orang.
Maka jurusan sistem informasi inilah yang bertugas merekayasa bagaimana informasi tersebut tampil sesuai dengan yang dibutuhkan penggunanya. Baik itu dengan bantuan perangkat lunak, ataupun hanya sekedar bantuan rangkaian prosedur untuk memilih dan menyeleksi informasi apa saja yang diinginkan penggunanya untuk ditampilkan.
Sederhananya begini. Anda pasti pernah membuka situs belanja online di smartphone atau di laptop anda. Sistem informasi yang berada di situs tersebut akan merekomendasikan beberapa barang yang mirip dengan merek dan harga berbeda sesuai dengan riwayat pencarian barang yang anda lakukan. Misalnya saya sering mencari barang di kategori handphone, maka situs belanja online yang memiliki sistem informasi yang baik akan memberikan saran jenis handphone lain dengan merek dan harga yang beragam ketika kita membuka situs belanja online tersebut.
Contoh lain di situs berita online. Setelah anda selesai membaca berita online dengan tema olahraga, maka biasanya di bawah artikel tersebut diberikan beberapa judul yang berkaitan dengan tema yang serupa. Itu merupakan contoh sistem informasi yang ada di beberapa situs yang mungkin pernah saya dan anda kunjungi.
Masih banyak lagi contoh sistem informasi yang bekerja di situs-situs yang biasa kita kunjungi. Baik itu jejaring sosial, maupun situs berita online. Itu semua disusun sedemikian menggunakan kodingan logika yang tidak sedikit. Saya berkata demikian karena sudah mencoba untuk membuatnya, dan belum berhasil. Hehe
Kemudian saya menjadi miris ketika banyak orang dengan enaknya membagikan berbagai informasi di sosial media tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya dampak yang ditimbulkan dari informasi tersebut. Padahal tubuh kita adalah satu sistem maha sempurna yang pernah diciptakan. Sayangnya kebanyakan dari kita masih belum bisa menyinkronkan itu semua. Antara jempol, akal, dan hati belum terjalin kerja sama yang padu.
Itu baru satu kasus. Belum lagi kalau kita mempunyai beberapa grup di media chatting seperti BBM, Telegram, Line, Whatsapp, dan lain sebagainya. Kita selalu disuguhkan dengan informasi dengan sumber yang sama Dari Grup Sebelah. Harusnya para sineas kita juga membuat film yang serupa dengan Cek Toko Sebelah dengan Judul Dari Grup Sebelah. Isinya membahas kelakuan para oknum anggota grup yang ingin terlihat lebih pintar hanya dengan membagikan beberapa informasi tanpa memikirkan kebutuhan informasi bagi para pembaca dari grup sebelah dan sebelahnya.
Kemudian biar postingan ini dikasih berkah, kita kutip sebuah hadits yang kasih peringatan kita buat menginstal sistem informasi di seluruh indera tubuh kita.

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim no. 5).
Karena bagaimanapun juga kita hidup bermasyarakat, berdampingan dengan orang lain. Dan tidak semua orang yang hidup berinteraksi dengan kita nyaman dengan informasi yang kita sampaikan. Kalau memang isinya tepercaya dan berupa kebenaran, kita tidak melakukan kesalahan dalam penyampaiannya. Namun apabila yang terjadi adalah sebaliknya. Informasi yang disampaikan tidak jelas, terus juga malah menimbulkan multi tafsir dan masalah baru, lebih baik kita tunda dulu sampai kebenaran informasinya jelas dan layak untuk kita bagikan kepada rekan kita di sosial media, di grup sebelah dan sebelahnya.
Dan kudu hati-hati juga nih. Sekarang rezim pemerintah kita udah makin mirip zaman dulu. Yang main tangkap orang-orang yang sembarangan berpendapat. Apalagi menyinggung pemerintah. Kita main cerdas saja ya. Kecewa boleh, marah boleh, tapi cara penyampaiannya itu yang kita atur. Kita benerin susunan kalimatnya. Kali aja kita diundang jadi bintang tamu di Hitam Putih atau di Ini Talkshow gara-gara postingan inspiratif kita.
Oh iya semoga kita juga dijauhkan dari niat kita membagikan informasi tersebut hanya sekedar mencari Iike dan pujian semata dari kawan dunia maya. Jangan tertipu saudara-saudara. Karena tak semuanya yang kasih jempol itu baca postingan kita. Bisa jadi mereka cuma secret admirer yang udah 5 tahun gak ketemu. Bisa jadi kasian liat foto profil kita. Bisa jadi salah sentuh, karena jempolnya lebih besar dari layar smartphonenya. Segala kemungkinan terburuk kita harus pikirkan masak-masak. Jangan cepat bahagia karena jempol di postingan anda.
Terakhir saya hanya ingin menambahkan bahwa idola saya nabi Muhammad SAW, orang yang tidak pernah kuliah di jurusan sistem informasi, tidak bisa membaca dan menulis, namun beliau sudah memberikan peringatan di masa hidupnya. Begini isinya : “Andaikan kalian tahu apa yang aku ketahui tentu kalian akan kurang bisa tertawa, banyak menangis, keluar menuju berbagai jalan (untuk mencari perlindungan kepada Allah) dan tidak akan tenang di atas tempat tidur”. (HR. Bukhari, al-Hakim dan ath-Thabrani).
Nabi Muhammad itu diberikan kelebihan untuk mendapatkan segala macam informasi langsung dari langit melalui malaikat Jibril. Dan kita tidak pernah tahu informasi apa saja yang diterimanya kecuali apa yang disampaikannya kepada kita melalui para sahabat-sahabatnya. Pastinya lebih banyak lagi informasi yang didapatkan oleh idola saya tersebut. Tapi, apa yang dilakukan sang nabi? Dia hanya menyampaikan semua yang Allah perintahkan. Tidak ada yang dilebihkan dan dikurangi. Lah kita? Berapa banyak sih yang kita tahu. Waduh malu sendiri jadinya saya. Mohon maaf nih kalau selama ini saya suka membagikan informasi hanya mencari like, hanya minta pujian, dan sumber informasinya juga belum jelas..
Curhatan mahasiswa sistem informasi yang miris melihat informasi yang berseliweran dam negeri.

Selasa, 02 Februari 2016

Cerita Ibu di Februari

12.57 Posted by hamzah ramadhan , No comments
Pagi ini matahari masih malu menyapa. Hari kedua di bulan Februari. Sudah satu bulan berlalu sejak tahun ini berganti. Langit masih setia tegak berdiri menyaksikan rangkaian mimpi penduduk bumi di tahun ini. Mereka yang sudah menyiapkan serangkaian resolusi di awal tahun ini ada beberapa yang sudah mulai merampungkan masing-masing resolusinya itu. Awan masih setia hilir mudik di langit. Melindungi beberapa daerah yang perlu untuk diberikan rahmat berupa hujan. Tetesan air yang bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup di sekitarnya. Yang bukan hanya membasahi tanah, namun juga membasahi daun, batang, akar pohon yang tak pernah berhenti berzikir dengan caranya masing-masing.

Langit di hari kedua bulan Februari sudah cukup bersahabat. Namun aku masih hanya memperhatikannya dari kaca jendela kamar. Belum tergerak kaki ini untuk keluar sekedar menyapa mentari yang telah menaati aturan untuk mampir dan singgah menerangi kota dimana aku tinggal saat ini. Belum sempat pula aku menyapa angin yang berhembus dengan sejuknya di pagi hari. Belum terkontaminasi. Apalagi untuk sekedar menyapa burung-burung yang bersahutan tak berhenti sejak tadi. Berkeliaran lincah, terbang kesana kemari, berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain. Aku belum sempat menyapa mereka semua yang berhasil mewarnai pagi di hari kedua Februari ini menjadi begitu harmoni.

Aku masih menyederhanakan bentuk sapaan kebahagiaan ku kepada makhluk Allah yang paling berarti sejak aku dilahirkan ke dunia ini. Dia seorang manusia, sama seperti ku. Bedanya, kasih sayang yang dimilikinya tak berbatas. Tak bertepi. Hingga aku betah untuk menunda sapaan ku kepada mentari, angin, dan burung-burung pagi hari ini. Dia adalah ibuku. Yang membangunkan ku ketika adzan subuh berkumandang. Ketika bapakku sedang sibuk dinas di luar kota, ibu menjadi sosok sentral di rumah. Bangun sebelum subuh, membangunkan aku dan adik-adikku untuk pergi ke mushola. Menyiapkan sarapan, bekal makanan untuk dibawa adikku sekolah pagi, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Aku menikmati saat-saat membantunya, meski tak seberapa. Meski hanya mengajaknya berbincang sebentar saat dia sedang menggoreng nasi kesukaan ku dan adik-adikku.

Hari kedua di bulan Februari ini sepertinya akan lebih banyak aku habiskan di rumah. Untuk berinteraksi dengan beberapa buku yang masih terbungkus plastik. Yang belum aku baca sama sekali. Sekalian memanfaatkan kesempatan mahal yang biasa kita lupakan bahwa aku masih diberikan kebahagiaan yang belum tentu dimiliki oleh  orang lain yaitu berinteraksi dan mengobrol langsung dengan ibu sendiri dalam waktu kerja seperti ini. Aku beruntung diberikan oleh Allah seorang ibu yang bersedia menjadi ibu rumah tangga. Menyediakan seluruh waktunya di rumah. Full time mother.

Dulu, ketika aku masih sekolah SD di Bekasi, aku paling dekat dengan ibu. Selain karena aku adalah anak pertama, ibu juga beberapa kali mengantar dan menjemputku sekolah. Jadi waktu yang aku habiskan bersama seorang ibu sangat berkesan, meski tidak berlangsung lama. Karena ketika aku naik kelas 4, Ibu bersama semua adik-adik harus mengikuti bapak pindah ke Palembang. Dan aku belum bisa pindah bersama karena harus mengurus paspor kepindahan dari Bekasi ke Palembang. Kamu tahu kan bahwa Bekasi terletak di planet lain, makanya sulit mengurus izin pindah tersebut. (jangan terlalu serius ya).

Waktu 2 tahun sekolah tanpa kasih sayang seorang ibu pernah aku rasakan. Dan itu ketika masih SD. Untungnya aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari nenek ku. Dia menggantikan peran ibu dengan pengalamannya mendidik anak-anaknya dimana salah satu dari mereka adalah bapakku. Dengan telaten penuh kesabaran, menghadapi kenakalan anak usia 9 tahun yang selalu ingin tahu, selalu ingin mencoba hal baru. Dijawabnya semua pertanyaan ku saat itu. Diajaknya berkeliling pasar, diajaknya pula aku ke pengajian ibu-ibu yang tak pernah aku tahu bagaimana akhir acaranya, karena aku selalu tertidur di pertengahan acara. Dan banyak hal lagi yang masih terekam jelas dalam ingatan ku bagaimana nenekku berusaha semaksimal mungkin memberikan kasih sayangnya padaku. Semoga Allah membalas kebaikannya di masa hidup, dan memberikannya tempat terbaik di Syurga.

Sebaik apapun perhatian yang orang lain berikan padamu, setulus apapun kasih sayang yang ditunjukkan nya padamu, itu semua tidak akan pernah menggantikan perhatian dan tulus nya kasih sayang yang pernah ditunjukkan seorang ibu.

Salah seorang kakak senior di tempat kerja pernah mengatakan bahwa jika orangtuanya kaya, maka anaknya akan ikut merasakannya, tapi jika anaknya yang kaya belum tentu orangtuanya bisa merasakannya juga. Ah kalau sudah seperti ini kadang aku suka berpikir, apa gunanya aku kerja tiap hari pergi pagi pulang malam, atau pergi malam pulang pagi namun tidak ada satupun yang bisa aku persembahkan kepada orangtuaku selain cerita lelah, dan wajah suntuk saja.

Tapi lagi-lagi aku masih bersyukur, karena Allah juga masih memberikan tempat kerja yang dekat tempat tinggal orangtua. Aku tidak harus merantau di beda kota atau beda pulau yang menyebabkan terpisahnya jarak antara aku dan orangtua. Aku masih bisa mencium tangan ibu dan bapak sebelum pergi kerja. Masih bisa melihat senyum mereka setiap hari secara langsung tanpa melalui video call atau skype.


Makanya pagi ini aku tak sempat menyapa mentari, menyapa angin, menyapa burung-burung. Karena mentari tak bisa menggantikan hangatnya kasih sayang ibu di pagi hari, angin tak mampu menggantikan kelembutan tangan ibu yang membangunkan tidur ku untuk sholat dan segera mandi, dan burung-burung tak akan bisa menyaingi keindahan suara ibu saat mengobrol bersama di ruang keluarga.

Jumat, 16 Oktober 2015

Keluhan Di Sosial Media

10.43 Posted by hamzah ramadhan 1 comment
Sambil rehat di aktivitas hari Jumat ini, sejenak aku meluangkan waktu membuka handphone untuk menyapa orang-orang di sosial media. Tapi niat untuk menyapa dengan membuat status teralihkan dengan banyaknya postingan status keluhan yang diposting oleh teman-teman di dunia maya. Memang berbeda macam jenis keluhannya. Ada yang mengeluhkan hari ini tidak indah karena mati lampu. Ada yang mengeluhkan langit tak lagi cerah karena banyak asap. Ada juga yang mengeluhkan badan gak enak karena belum mandi sejak tadi pagi karena air tidak jalan.

Semangat pagi berganti suram setelah melihat banyaknya keluhan bertebaran di beranda. Kualitas seseorang itu tergantung dari apa yang dikeluhkannya di sosial media. Ada yang hanya mengeluhkan soal makanan, ada yang mengeluhkan soal pelayanan toko atau salon tempat dia potong rambut. Bahkan ada juga yang mengeluhkan soal status sosial yang disandangnya sekarang. Waduh bagaimana mau sehat pikiran kita jika setiap hari kita dipenuhi dengan keluhan-keluhan ini. Ditambah dengan pikiran kita yang terkadang membenarkan beberapa keluhan tersebut karena sesuai dengan kondisi yang kita alami.

Aku ingin menguji sebuah riset yang tidak pernah dipatenkan. Cobalah buat temen-temen yang suka mengeluh di sosial media, buat akun sosial media baru yang tidak memiliki teman atau follower. Kemudian postinglah semua keluhan-keluhan dan kekesalan yang kalian miliki di sosial media itu. Kemudian setelah beberapa waktu berlalu, coba baca semua keluhan-keluhan yang pernah kalian posting. Dan tanyakan atas dasar apa kalian menulis keluhan itu?

Apa yang anda rasakan ketika melihat semua keluhan anda tak memiliki feedback seperti yang kalian dapatkan di sosmed yang selama ini kalian punya? Sedihnya bertambah? Atau merasa bahwa postingan kalian itu sia-sia karena tak ada satupun yang baca?
Kemudian pernahkah kita berpikir lebih jauh, bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang dirasakan oleh hamba Nya?

Dia ciptakan bumi beserta isinya, beserta seluruh nikmat yang kita rasakan sampai hari ini. Allah tidak pernah berhenti memberikan nikmat kepada hamba yang tidak pernah sekalipun bersyukur atas semua pemberian Nya. Bahkan banyak di antara orang-orang yang kufur itu ditambah terus jumlah nikmat Nya oleh Allah.

Apakah kita berpikir bahwa kehidupan kita ini berjalan otomatis tanpa ada yang mengatur? Bahkan sebuah sosial media seperti facebook saja harus selalu mengupgrade server yang ada agar kecepatan akses situs itu berjalan lancar tanpa hambatan. Kemudian situs pencarian seperti google saja selalu mempunyai logo baru di setiap tanggal-tanggal penting. Apakah google bekerja sendiri secara otomatis? Ada operator yang mengaturnya. Ada desainer yang merancang gambarnya. Ada programmer yang mengkoding supaya gambar itu memiliki animasi dan efek lucu lainnya.

Kemudian masihkah kita berpikir untuk mengeluh di semua tatanan kehidupan yang sudah diatur sedemikian detil. Pada hakikatnya kepada siapakah keluhan ini kita tujukan? Apakah hanya untuk mendapatkan tanda like di facebook? Atau tanda love di path atau instagram? Atau sekedar mendapat puluhan retweet di twitter?

Lalu jika diklarifikasi mengenai keluhan di sosial media itu, mereka menjawab bahwa tidak semua yang diposting di sosial media ini mencerminkan kehidupan sebenarnya. Mereka menganggap bahwa keluhan itu sekedar hiburan, lalu tidakkah mereka paham ada efek yang ditimbulkan dari postingan keluhan itu? Ada berapa semangat yang hilang gara-gara membaca keluhan-keluhan itu. Ada berapa postingan serupa yang muncul setelah keluhan yang kita posting?

Semoga kita lebih bijak dalam menggunakan sosial media. Karena bukan hanya kita yang membaca postingan bernilai negatif yang kita tulis.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main- main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang- orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?” (QS. Al An’am 32)

Sabtu, 18 Juli 2015

Kerja Itu Ibadah

21.44 Posted by hamzah ramadhan , No comments
 

      Semarak lebaran masih terasa semarak di malam ini. Maklum saja, ini masih malam kedua lebaran. Dan lagi malam ini adalah malam minggu. Semua tumpah ruah ke jalan, ke tempat perbelanjaan, tempat hiburan, tempat makan, hanya untuk sekedar bertemu sapa dengan rekan sejawat yang barangkali terpisah oleh jauhnya jarak tempat bekerja. Suasana silaturahim masih begitu hangat untuk diperbincangkan hari ini. Semua foto kebersamaan berseliweran memenuhi beranda sosial media. Lebaran sungguh momen yang pas untuk berkumpul kembali bersama teman-teman lama yang pernah berbagi suka dan duka.
    Aku masih saja duduk membuka beberapa akun sosial media yang dipenuhi foto-foto kebersamaan orang-orang bersama keluarga maupun teman-teman mereka. Kadang terbersit rasa iri mengapa di tengah suasana istimewa ini, aku masih dituntut untuk mengabdi. Sempat terlintas pikiran tentang apa yang sebenarnya aku cari dalam kehidupan ini. Namun pikiran itu sudah aku buang jauh-jauh. Aku bukanlah satu-satunya orang yang harus merelakan waktu kebersamaan dengan keluarga terbuang sia-sia. 
       Perhatianku teralihkan oleh berita mudik lebaran tahun ini. Polisi dengan seragamnya yang rapi selalu siaga memantau setiap pos-pos mudik yang dianggap rawan kemacetan dan kecelakaan. Mereka berjaga seharian, kadang waktu istirahat mereka terganggu hanya karena mengamankan jalannya lalu lintas agar berjalan dengan aman dan lancar. Profesi sebagai seorang polisi menuntut kita untuk mengabdikan diri pada negara di atas kepentingan keluarga. Saya angkat topi penghormatan untuk mereka yang menjunjung tinggi loyalitas demi kepentingan bersama di atas kependingan mereka secara personal.
        Kemudian aku membaca berita mengenai erupsi Gunung Raung di Surabaya. Banyak penerbangan tertunda. Beberapa pemudik gagal melaksanakan agenda tahunannya. Silaturahim yang harusnya terjalin di lebaran ini cukup disalurkan lewat media telekomunikasi saja demi keselamatan bersama. Mudik adalah agenda tahunan yang sangat besar dan sudah menjadi sebuah tradisi di negara ini. Setiap lebaran, selalu saja agenda mudik menjadi berita utama. Pilot harus bekerja keras menjalankan tugasnya mengantar penumpang di tengah kondisi lebaran ini. Supir bus harus rela menempuh kemacetan, mengorbankan waktu yang dimilikinya bersama keluarga hanya untuk menjalankan tugasnya memastikan para pemudik sampai di kota dengan selamat. Begitu pula masinis kereta yang harus rela menyusuri rel demi rel untuk menjalankan kewajibannya. Mereka adalah satu di antara sekian banyak orang yang pada saat hari lebaran belum bisa menyediakan waktunya untuk berkumpul bersama keluarga.
        Dan tidak lengkap rasanya apabila aku tidak membahas mengenai dokter dan seluruh pekerja di kesehatan lainnya. Mereka tak punya lagi tawar-menawar soal waktu. Ketika ada pasien yang sedang dalam kondisi kritis dan membutuhkan pertolongan pada hari lebaran itu, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, mereka akan menyediakan seluruh waktunya demi menyelamatkan nyawa manusia. 
        Aku tutup sosial media itu, dan mulai mencoba menulis catatan ini. Sekedar menyampaikan kepada kalian semua yang mungkin saat ini sedang berada dalam kewajiban menjalankan tugasnya agar tetap semangat. Semangat itu adalah sugesti yang bisa kita dapatkan dari dalam diri sendiri untuk meningkatkan mood agar lebih bahagia dalam melaksanakan sebuah aktifitas. Selain itu ada janji Allah bagi orang-orang yang bekerja karena didasarkan dengan niat ikhlas karena Allah. 

Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli).  Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang  mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)

Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah- payahan dalam mencari nafkah. (HR. Ath-Thabrani)